HOLOPIS.COM, JAKARTA – Psikolog Erry Indriani menegaskan bahwa bullying dapat memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental korban, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dampak tersebut kerap bermula dari reaksi psikologis yang tampak ringan, tetapi dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih kompleks apabila tidak ditangani dengan tepat.
“Bicara soal dampak bullying, sebenarnya yang pertama kali muncul itu reaksi stres,” ujar Erry, kepada Holopis.com, Jum’at (12/12).
Ia menjelaskan bahwa korban bullying biasanya menjadi lebih cemas dan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa tidak nyaman dan tidak aman. Kondisi ini juga berdampak pada menurunnya motivasi serta konsentrasi dalam proses belajar, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan penurunan prestasi akademik.
Namun, Erry mengingatkan bahwa dampak jangka panjang bullying sering kali tidak terlihat secara langsung. Banyak korban membawa luka emosional tersebut hingga bertahun-tahun kemudian, yang memengaruhi perkembangan kepribadian dan kesehatan mental mereka.
“Banyak korban tumbuh dengan rasa tidak percaya diri, sulit percaya pada orang lain, dan ada yang akhirnya mudah sekali jatuh ke depresi atau kecemasan. Bullying sangat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya dan dunia di sekitarnya dalam jangka panjang,” jelasnya.
Terkait tanda-tanda korban bullying, Erry menyebut bahwa perubahan perilaku sering menjadi indikator awal yang kerap luput dari perhatian orang di sekitar. Perubahan tersebut bisa muncul pada anak maupun orang dewasa.
“Biasanya terlihat dari perilaku yang menjadi lebih pendiam, malas ke sekolah, bahkan pola tidur mulai terganggu. Korban juga bisa menjadi lebih sensitif, mudah menangis, kehilangan minat, serta mengalami gangguan emosional dan kecemasan,” katanya.

Menurut Erry, perubahan-perubahan ini sering kali dianggap wajar atau diabaikan, padahal sejatinya merupakan sinyal dari tubuh dan emosi bahwa seseorang sedang berada dalam kondisi tidak aman.
Dalam hal penanganan, Erry menekankan bahwa dukungan paling penting bagi korban bullying adalah menciptakan rasa aman agar mereka dapat bercerita tanpa takut dihakimi atau disalahkan.
“Yang paling penting adalah memberikan rasa aman untuk korban bercerita tanpa harus menghakimi. Dengarkan dulu apa yang korban rasakan atau alami, lalu validasi perasaannya dengan mengatakan bahwa apa yang mereka alami memang menyakitkan dan wajar dirasakan,” ungkapnya.
Setelah proses validasi dilakukan, Erry menyebut langkah selanjutnya adalah membantu korban menata arah ke depan. Pendampingan profesional, mediasi, perlindungan, serta dukungan emosional yang konsisten dinilai jauh lebih efektif dibandingkan memberikan nasihat secara terburu-buru atau menyalahkan korban atas pengalaman yang mereka alami.


