HOLOPIS.COM, JAKARTA – Peluncuran buku “The Mentor: Sembilan Purnama di Sisi SBY” menjadi momen perayaan atas pertemuan dua spektrum inspirasi yatu manifestasi visi kepemimpinan dan energi kreatif masa depan.
Buku yang merangkum sembilan bulan perjalanan spiritual dan bimbingan langsung Merry Riana di sisi Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini, bukan sekadar kronik, melainkan penegasan filosofis bahwa kearifan sejarah adalah bahan bakar utama bagi akselerasi Ekonomi Kreatif (Ekraf) Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang hadir memberikan dukungan penuh, mendefinisikan proses penciptaan karya tulis sebagai ‘ziarah batin’. Menko AHY menolak pandangan menulis sebagai proses mekanis seperti membangun infrastruktur fisik.
Dalam analogi yang tajam, Menko AHY menegaskan, “Menulis buku tidak sama seperti membuat irigasi. Ia butuh dialog dengan batin, dengan rasa, dengan empati, dan juga berusaha untuk menyelami apa yang ada di pikiran sang mentor.”
Pernyataan ini menggarisbawahi inti dari The Mentor bahwa karya ini lahir dari kedalaman emosional dan upaya otentik untuk mengubah pengalaman kepemimpinan yang kompleks menjadi pelajaran yang terasa personal, jauh melampaui sekadar catatan teknis.
Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, kemudian tampil membawa perspektif futuristik. Ia melihat buku ini bukan hanya produk penerbitan, melainkan sebuah manifesto yang membuktikan bahwa literasi adalah mesin penggerak Ekraf yang sesungguhnya.
“‘The Mentor’ adalah jembatan antara kepemimpinan dan kreativitas, antara refleksi dan aksi,” tegas Menteri Ekraf.
Menurutnya, Merry Riana dan Alva Tjenderasa berhasil mengangkat storytelling Indonesia ke level yang lebih tinggi dan menjadikannya alat ampuh untuk membangun karakter bangsa di tengah derasnya arus digital.
Merry Riana sendiri menyebut perjalanannya ini berawal dari “panggilan hati sekaligus keresahan.” Melangkah ke dunia pemerintahan yang asing, ia menjadikannya laboratorium pembelajaran.
Kini, kisah yang terangkum dari “Pacitan hingga Stanford, dari keheningan hingga sorak kemenangan” ini mengajak pembaca merenungkan kembali arti keteguhan, nilai moral, dan pengabdian sejati yang tak lekang dimakan zaman.
Peluncuran ini, yang juga dihadiri oleh Wakil Presiden ke-11 Boediono dan sejumlah tokoh nasional, berhasil menyatukan lintas generasi dan sektor yang mengukuhkan posisi literasi sebagai mata uang abadi yang mempertemukan politik, peradaban, dan industri kreatif.


