HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah Indonesia tengah bersiap memasuki era baru energi hijau. Melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia akan mempercepat program penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dengan campuran etanol 10 persen (E10).
Tak tanggung-tanggung, pemerintah akan belajar langsung dari Brasil, negara yang dikenal sebagai pelopor sukses energi berbasis bioetanol di dunia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan, pihaknya akan segera mengirim tim ke Brasil untuk mempelajari sistem produksi, distribusi, hingga kebijakan implementasi bahan bakar berbasis etanol di sana. Langkah ini dilakukan agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mampu memproduksi bioetanol secara mandiri.
“Karena ini hal yang baru bagi kita, saya akan kirim tim ke Brasil untuk bertukar pandangan dengan para pakar di sana. Mereka juga akan datang ke Indonesia untuk mendukung program ini,” ujar Bahlil, Minggu (26/10).
Bahlil menjelaskan, Brasil kini sudah jauh melangkah di depan. Ketika Indonesia baru menargetkan E10, Brasil telah menerapkan campuran etanol 30 persen (E30) secara nasional, bahkan di beberapa wilayah sudah mencapai E85 hingga E100.
“Kami sudah sepakat membentuk tim kerja dan kemarin saya juga sudah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pihak Brasil,” tambahnya.
Tak hanya soal bioetanol, kerja sama kedua negara juga berpotensi meluas ke bidang energi nuklir. Brasil diketahui memiliki cadangan uranium yang melimpah serta beberapa pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang sudah beroperasi.
“Termasuk di dalamnya dijajaki kerja sama pengembangan nuklir, karena mereka punya sumber uranium dan pengalaman panjang di bidang itu,” ungkap Bahlil.
Langkah ini menandai keseriusan pemerintah dalam mengejar transisi energi bersih sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Jika terealisasi, Indonesia berpotensi menjadi salah satu negara dengan sistem energi hijau paling progresif di Asia Tenggara.


