HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sejumlah media yang dicap mainstream diduga terlibat dalam perkara perintangan penyidikan dengan terdakwa Marcela Santoso dkk.
Dalam surat dakwaan terdakwa Junaidi Saibih, tim penuntut umum Syamsul Bahri Siregar mengungkapkan media-media yang terlibat dalam membangun framing negatif kinerja Gedung Bundar membongkar perkara megakorupsi ekspor CPO sebagai media arus utama (mainstream).
Dimana terungkap bahwa Marcela Santoso cukup lihai dalam mengelabui hukum dan upaya merintangi penyidikan dengan penyebaran informasi negatif.
Jaksa penuntut umum mengklasifikasikan para terdakwa menjalankan skema nonyuridis melibatkan banyak media seperti “Kompas”, “Detik”, “CNBC”, “Republika”, “Liputan6” dan lain-lain.
Penuntut umum menguraikan terdakwa Marcella bersama Tian Bahtiar dan Junaidi menyusun skema untuk memojokkan Kejagung. Selain menentukan media-media sebagai corong, terdakwa Marcella, Junaidi dan Tian Bahtiar juga menggelar seminar sekaligus menentukan narasumber.
“Seolah-olah penanganan perkara tindak pidana korupsi korporasi dalam pemberian fasilitas ekspor Crude palm oil (CPO) dan turunannya pada industri kelapa sawit yang dilakukan oleh penyidik dan penuntut umum pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus adalah tidak benar dan tidak berdasar,” kata penuntut umum membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Rabu (22/10).
Mirisnya, media Detik yang menjadi penyelenggara Adhyaksa Award selama beberapa tahun terakhir diduga ikut menjadi bagian upaya perintangan yang disiapkan Marcella.
Selain “Detik”, Marcella juga memanfaatkan “CNBC”, “Kontan”, “Kompas”, “Republika”, “Liputan6”, “Merdeka”, “Media Indonesia”, “Viva”, “Suara”, “Idntimes”, “iNews”, “Jawapos”, dan lain-lain. Berita-berita tersebut juga disiarkan melalui kanal-kanal “Jak TV”.
Apakah bos media-media itu nantinya bakal diperiksa, Direktur Penuntutan (Dirtut) Jampidsus kala itu Sutikno menjawab diplomatis.
“Ikuti saja proses persidangan,” kata Sutikno usai pisah sambut di Kejaksaan Agung beberapa waktu lalu.
Marcella turut menjadi narasumber dengan plot wawancara eksklusif di sejumlah media, untuk membangun citra positif korporasi yang sempat diputus onslag. Tindakan ketiganya disebut penuntut unum sebagai operasi media.

