HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di tengah nostalgia Kota Tua Jakarta, berdiri sebuah bangunan kolonial yang bukan sekadar menawarkan akomodasi, tetapi sebuah portal waktu. Inilah House of Tugu, sebuah mahakarya yang dengan berani menggabungkan tiga pengalaman esensial hotel butik, restoran heritage, dan kafe Peranakan ke dalam satu bingkai sejarah.
Mengusung napas budaya Peranakan, perpaduan elegan antara warisan Jawa dan Tionghoa, Tugu menyajikan lebih dari sekadar estetika. Tempat ini adalah rumah bagi ratusan artefak antik, koleksi peninggalan tokoh besar, dan memorabilia yang membentang dari era kolonial hingga tahun 90-an, menjadikannya sebutan yang layak sebagai “museum hidup.”
Keunikan House of Tugu terpancar dari arsitekturnya yang megah, dikelilingi pepohonan rindang yang memancarkan aura harmonis. Nuansa vintage yang hangat dan kaya budaya menyambut setiap pengunjung.
Bangunan ini bukanlah proyek instan, melainkan buah dari cinta dan ketelatenan yang dikembangkan selama lebih dari 15 tahun, sebuah dedikasi untuk melestarikan warisan tanpa mengorbankan kenyamanan modern.
Inti dari pengalaman ini adalah 25 suite hotel butik eksklusif. Setiap suite dirancang dengan tema dan elemen vintage Peranakan yang berbeda, memastikan bahwa tidak ada dua kunjungan yang terasa sama. Setiap kamar adalah babak sejarah yang dapat dinikmati secara privat.
Langkah pertama memasuki lobi yang dinamakan Kapiten Room akan segera membawa Anda ke masa lalu. Nama ruangan ini terinspirasi dari sebutan pemimpin Kong Koan, komunitas Tionghoa pada era VOC abad ke-17. Ruangan ini dipenuhi artefak yang tertata apik, namun sudut paling memikat terletak pada bagian bertuliskan “The Forbidden House of Batavia.”
Menurut kisah, pada abad ke-16, bangunan megah ini merupakan rumah besar milik warga Tionghoa yang terlarang untuk dimasuki sembarangan. Di abad ke-17, barulah ia bertransformasi menjadi kantor komunitas Kong Koan. Pengalaman berjalan di sini sungguh seperti menelusuri lorong-lorong rahasia di jantung ibu kota lama.
Daya tarik House of Tugu juga terletak pada detail-detail tak terduga dalam ruang kuliner dan kafe. Interior bergaya peranakan menawarkan suasana santai untuk memulai hari, buka dari jam 7 pagi hingga 11 malam. Kafe ini menjanjikan pengalaman ngopi yang istimewa, dengan biji kopi langsung dari kebun milik Tugu Group sendiri, yaitu Kawisari Coffee Plantation di Jawa Timur.
Di langit-langit kafe, terdapat sebuah mahakarya yang membeku dalam waktu yaitu seekor naga raksasa berwarna emas dan merah. Dibuat pada tahun 1961 untuk perayaan Cap Go Meh, naga ini tak pernah dipakai menari karena situasi politik saat itu. Kini, ia menjadi saksi bisu sejarah, tergantung anggun sebagai elemen seni yang monumental.
Sementara itu, restoran elegan Jajaghu menyajikan hidangan Peranakan klasik dengan sentuhan modern. Interiornya dipenuhi dekorasi mewah dan koleksi antik, namun daya tarik utamanya adalah pohon besar yang secara unik tumbuh dari dinding asli bangunan. Pohon ini sengaja dipertahankan, menjadi elemen artistik yang memperkuat karakter ruangan dan menegaskan filosofi Tugu: melestarikan tanpa merusak.
House of Tugu bukan sekadar destinasi di Kota Tua. Tempat ini adalah sebuah perjalanan menyusuri waktu, budaya, dan warisan Indonesia. Setiap sudut menyimpan kisah, setiap hidangan membawa kenangan, dan setiap kunjungan menjanjikan pengalaman yang tak terlupakan.



