JAKARTA – Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI) Syam Basrijal sepakat dengan statemen Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut, masyarakat tidak akan banyak berdemonstrasi ketika pertumbuhan ekonomi mengalami percepatan, setidaknya adalah 6 sampai 7 persen.
“Ada benarnya di situ. Artinya itu menyiratkan pandangan bahwa kesejahteraan materi adalah obat mujarab, sebab perut kenyang memang menenangkan pikiran,” kata Syam Basrijal kepada Holopis.com, Selasa (9/9/2025).
Hanya saja ia mengingatkan bahwa ketenangan tidak hanya sekadar materi, akan tetapi perlakuan negara dalam menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia pun tak bisa diabaikan.
Sehingga ia mengingatkan agar Pemerintah Indonesia tidak sekadar fokus memperbaiki ekonomi saja, melainkan memastikan keadilan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, tanpa terkecuali.
“Pertumbuhan ekonomi bisa mengisi perut, tapi keadilanlah yang mengisi hati. Jika hanya satu sisi yang dipenuhi, bangsa tetap rapuh,” ujarnya.
Rakyat Jangan Terjebak Euforia
Di sisi lain, Syam Basrijal memiliki penilaian tersendiri terhadap sosok Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam perspektif karakteristik, menteri yang baru dilantik Presiden Prabowo pada 8 September 2025 tersebut memiliki jiwa yang enerjik.
“Purbaya hadir sebagai “detak jantung cepat.” Ia memberi energi, semangat, dan keberanian. Ia berbicara dengan rakyat menggunakan bahasa lugas, tanpa banyak basa-basi. Detak cepat ini penting untuk mencegah tubuh bangsa terjebak dalam stagnasi,” tutur Syam.
Pun demikian, ia mengingatkan agar publik tidak terlalu menempatkan euforia tersebut sebagai kesenangan akhir. Sebab, yang utama saat ini adalah bagimana kinerja Purbaya Yudhi ke depan, apakah ia benar-benar memiliki integritas dan kapabilitas untuk merespons tantangan pasar dan dunia global ini atau tidak.
“Di titik inilah bangsa harus belajar, jangan terjebak pada euforia detak cepat, dan jangan pula terpaku hanya pada ketenangan napas panjang. Kita perlu seni menyeimbangkan keduanya, sebagaimana manusia yang sehat mengatur napas dan jantungnya agar berjalan selaras,” ucapnya.
Optimisme Purbaya Yudhi soal Pertumbuhan Ekonomi
Sebelumnya diberitakan, bahwa Menteri Keuangan yang baru, Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan kondisi ekonomi Indonesia di kuartal ketiga memang sedang mengalami perlambatan. Bahkan dalam data pertumbuhan ekonomi saat ini mengalami depresi ketimbang di kuartal kedua.
“Anda banyak menyaksikan kan apakah angkat triwulan kedua pertumbuhannya betul 5,12 persen, itu betul sekitar segitu. Tapi sejak bulan Mei, Juni, Juli, Agustus ke sini, ada indikasi ada sesuatu yang nggak lancar sehingga ekonomi cenderung melambat di triwulan ketiga,” kata Purbaya di Istana Negara Jakarta, Senin (8/9/2025).
Situasi itu yang dinilainya ikut menyumbang kondisi buruk nasional beberapa waktu yang lalu, di mana gelombang demonstrasi merebak dan banyak orang terpancing untuk ikut melakukan aksi unjuk rasa.
“Itu makanya ketika ada demo sedikit, orang gampang terpacu. Jadi itu fondasinya ada faktor ekonomi juga, itu salah satu inidkator pertama,” ujarnya.
Karena dalam perspektifnya, masyarakat tidak akan banyak melakukan demonstrasi ketika ekonomi Indonesia dalam kondisi stabil. Sehingga inilah yang menjadi tantang tersendiri bagi Purbaya untuk mengatasi perlambatan ekonomi yang dimaksud.
“Kalau orang kerjanya banyak, ini banyak duit, ngapain demo, capek. Kira-kira itu, tapi ini dalam level yang baru awal,” tandasnya.
Hal senada juga disampaikan saat ditanya resposnya terhadap adanya tuntutan 17+8 yang muncul di kalangan masyarakat Gen Z dan Milenial. Purbaya mengaku secara pribadi belum mempelajari isinya seperti apa.
Namun ia menggarisbawahi, semua tuntutan rakyat bisa jadi karena memang kondisi ekonomi sedang kurang baik di Indonesia. Maka sekali lagi, fokusnya setelah dilantik sebagai Menkeu oleh Presiden Prabowo Subianto adalah mengembalikan tren pertumbuhan ekonomi agar lebih positif lagi.
“Tapi basically begini, itu kan suara sebagian kecil rakyat kita. Kenapa? mungkin sebagian ngerasa keganggu, hidupnya masih kurang ya,” ujarnya.
Sebab ia sangat yakin, ketika ekonomi nasional di angka 7 persen, maka secara berangsur tuntutan-tuntutan yang diajukan rakyat berkaitan dengan sektor ekonomi akan mulai memudar.
“Once saya ciptakan pertumbuhan ekonomi 6 persen, 7 persen. Itu (tuntutan 17+8) akan hilang dengan otomatis. Mereka akan sibuk cari kerja dan makan enak dibandingkan mendemo,” tutur Yudhi.


