BANDUNG – Kisruh pengelolaan Bandung Zoo kembali memanas, kebun binatang tersebut digeruduk oleh sejumlah oknum yang diduga berasal dari Taman Safari Indonesia (TSI), dengan pengawalan petugas keamanan berseragam Red Guard, pada Rabu (6/8) pagi WIB.
Aksi tersebut berbuntut pada terhambatnya perawatan satwa, bahkan beberapa video viral yang beredar, nyawa seekor bayi orang utan nyaris tak tertolong.
Tama, bayi orang utan yang baru berusia beberapa bulan, ditemukan terkurung dalam kamar isolasi yang terkunci. Kunci kamar tersebut disebut dibawa oleh oknum penyerbu, membuat petugas tak bisa masuk untuk memberikan pakan pagi.
Situasi ini membuat petugas terpaksa membongkar paksa pintu demi menyelamatkan Tama yang sudah tampak lemas.
Ketua Serikat Pekerja Mandiri Derenten (SPMD), Yaya Suhaya, tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Ia menyebut, aksi penyerbuan telah membuat para staf kehilangan akses untuk menjalankan tugas mereka.
“Banyak bayi satwa yang harus diberi pakan di pagi hari. Kalau terus dibiarkan, mereka bisa mati satu per satu,” ungkapnya seperti dikutip oleh Holopis.com.
Insiden ini menambah daftar panjang konflik pengelolaan yang sudah berlangsung berbulan-bulan antara Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) dan kelompok yang mengklaim sebagai manajemen baru.
Bukan hanya soal kepemilikan aset, tetapi kini telah berdampak langsung pada keselamatan satwa-satwa di dalam kebun binatang.
Humas Bandung Zoo, Sulhan Syafei, menegaskan bahwa situasi ini sudah bukan sekadar konflik administratif. Ia menyebut aksi tersebut sebagai bentuk pengambilalihan paksa yang menjadikan satwa sebagai “sandera.”
Menurutnya, ketegangan ini mengancam fungsi utama kebun binatang sebagai lembaga konservasi.
General Manager Bandung Zoo, Petrus Arbeny, menyatakan bahwa pihaknya telah melaporkan kejadian ini ke Polrestabes Bandung. Namun, belum ada langkah konkret dari pihak kepolisian untuk meredakan situasi atau mengamankan area kebun binatang dari tindakan ilegal serupa.
Dampak konflik juga dirasakan oleh para pengunjung yang telah membeli tiket. Banyak dari mereka tak bisa masuk tanpa ada informasi resmi dari pihak manapun. Kondisi ini menambah kerugian finansial sekaligus memperkeruh citra Bandung Zoo di mata publik.
YMT, yang saat ini mengklaim sebagai pengelola sah, mengecam keras aksi penyerbuan tersebut. Mereka menilai tindakan itu bukan hanya melanggar hukum, tapi juga mengancam keberlangsungan hidup puluhan satwa yang tinggal di sana.
Dengan situasi yang semakin tak menentu, publik pun mempertanyakan ketegasan aparat dalam mengamankan lembaga konservasi ini. Di tengah tarik menarik kepentingan, nyawa satwa menjadi korban pertama.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...