JAKARTA – Kabar duka datang dari dunia musik dangdut Indonesia. Penyanyi senior Yunita Ababiel meninggal dunia pada Minggu, 13 Juli 2025, di kediamannya di Depok, Jawa Barat. Pedangdut yang dikenal publik lewat lagu ‘Setia sampai Kiamat’ ini berpulang setelah berjuang melawan kanker payudara dan tumor di batang otak. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi industri musik tanah air, menyusul wafatnya Hamdan ATT pada awal bulan yang sama.
Selama lebih dari empat dekade, Yunita Ababiel aktif berkarya di industri musik, menapaki karier lintas genre dari pop, dangdut, hingga qasidah. Ia dikenal dengan berbagai nama panggung seperti Jujun N, Sriwahyuni, Yunita Irani, dan Yuyun Nabiela. Nama-nama ini mencerminkan fase perjalanan kariernya yang terus berkembang dan menyesuaikan dengan perubahan zaman serta industri.
Biodata Singkat
- Panggung: Yunita Ababiel
- Nama-nama Lain: Jujun N., Sriwahyuni, Yunita Irani, Yuyun Nabiela
- Tanggal Wafat: 13 Juli 2025
- Tempat Wafat: Depok, Jawa Barat
- Pekerjaan: Penyanyi
- Genre: Pop, Dangdut, Qasidah
- Tahun Aktif: 1979–2025
Latar Belakang dan Awal Karier
Yunita memulai karier profesionalnya pada tahun 1979 sebagai penyanyi pop dengan nama Jujun N. Di bawah naungan Musica Studios, ia merilis album pop secara konsisten setiap tahun hingga 1990, membentuk fondasi awal dari reputasinya sebagai penyanyi serba bisa. Suaranya yang khas dan kemampuan vokalnya membuatnya mudah dikenali, bahkan saat ia berpindah genre di kemudian hari.
Pergantian nama panggung dan label menjadi bagian dari perjalanannya. Setelah masa bersama Musica Studios, ia bergabung dengan beberapa label lain seperti MSC Records, New Metro/Blackboard, AGIP, dan MGM Records. Setiap fase label membawa perubahan dalam gaya musiknya, dari pop ke dangdut hingga qasidah, memperluas jangkauan audiensnya di berbagai kalangan.
Perjalanan dalam Dunia Dangdut
Masuk ke era 1990-an, Yunita mulai dikenal luas di ranah dangdut. Menggunakan nama Yunita Irani, ia merilis sejumlah album dangdut seperti Ujang Eneng (1991), Sabar (1997), dan Pertengkaran (1997). Tahun-tahun berikutnya, ia terus aktif dengan merilis album seperti Trauma (1999), Perasaan Wanita/Pengakuan (2001), dan Terguncang (2002). Lewat karya-karya ini, Yunita memperkuat identitasnya sebagai pedangdut senior yang vokalnya tetap kuat dan emosional.
Salah satu lagu yang membuat namanya semakin melekat di hati penggemar adalah Setia sampai Kiamat, yang menjadi semacam lagu ikonik bagi dirinya dan sering dikaitkan dengan identitas musiknya.
Karya Lain dan Pengakuan
Selain album-album studio, Yunita juga merilis beberapa singel menjelang akhir masa kariernya, seperti Gundah dan Maha Cinta pada tahun 2018, serta Shalawat Allahul Kahfi di tahun 2021. Ia pun sempat tampil dalam album kompilasi 10 Lagu Terbaik LCLD-IV Surabaya 1994 dengan nama Yuyun Nabiela, menyanyikan lagu Patung Batu.
Pada tahun 2015, Yunita Ababiel dinominasikan dalam ajang Anugerah Musik Indonesia sebagai Artis Solo Wanita Dangdut Terbaik, sebuah pengakuan atas konsistensi dan kontribusinya dalam musik dangdut nasional.


