JAKARTA – Founder Nusa Ina Connection (NIC) Abdullah Kelrey mencurigai agenda lain dari pengakuan seorang pria sebagai anggota BIN (Badan Intelijen Negara) sekaligus anggota grup 3 Kopassus TNI Angkatan Darat di sebuah toko emas di Medan, Sumatera Utara.
“Itu bukan sekadar tontonan seru di media sosial. Ada aroma lebih dalam dari sekadar drama belaka,” kata Kelrey dalam keterangannya kepada Holopis.com, Sabtu (28/6/2025).
Ia menduga bahwa ada sebuah operasi intelijen yang dilakukan pihak tertentu untuk tujuan yang sedang ditargetkan. Salah satu yang kentara adalah upaya pemelahan sebuah institusi negara karena melakukan tindakan yang berpotensi dibenci publik dengan menyebut institusi BIN dan grup pasukan elite di TNI AD.
“Fenomena ini mengandung sinyal yang patut dibaca sebagai bagian dari skenario yang lebih besar—bisa berupa agenda pelemahan institusi negara atau upaya pengalihan isu publik,” ujarnya.
Tak Mungkin Intel Mengaku
Ditegaskan Kelrey, dalam menjalankan tugas dan profesinya, anggota intelijen khususnya intel negara tidak akan pernah mengaku bahwa dirinya adalah seorang intel.
“Pertama, dari sisi prosedural, anggota BIN tidak pernah—dan tidak boleh—mengungkapkan identitasnya secara terbuka, apalagi di ruang publik yang terekam kamera, sambil mengklaim sebagai bagian dari unit elite militer,” tutur Kelrey.
Bahkan dalam melaksanakan tugasnya sekalipun, intelijen akan beroperasi di ruang senyap. Sehingga sangat tidak mungkin intelijen mengaku sebagai intel di ruang terbuka seperti yang terjadi di Medan Johor tersebut.
“Intel yang profesional tidak bermain di ruang sorotan. Mereka diam, bekerja di senyap. Maka, ketika seseorang mendaku sebagai anggota intel di ruang publik sambil memamerkan senjata, besar kemungkinan ia bukan bagian dari sistem, atau justru sedang menjalankan agenda tertentu yang membonceng nama institusi,” paparnya.
Waspada Penggiringan Opini
Lebih lanjut, aktivis dari Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) tersebut menegaskan, bahwa publik harus mewaspadai potensi penggiringan opini akibat video pria tersebut viral.
“Sudut paling sensitif dari kasus ini adalah peran akun media sosial yang menyebarkan video tersebut. Kita tidak boleh menutup mata bahwa dalam dunia intelijen modern, operasi media adalah bagian dari manuver yang nyata. Apakah video ini disebar oleh warga biasa? Ataukah ada pihak yang memang menyuplai konten itu ke pemilik akun dengan maksud tertentu—baik untuk membentuk opini publik, mempermalukan lembaga negara, atau bahkan membuka ruang delegitimasi terhadap aparat yang selama ini bekerja dalam senyap?,” terang Kelrey.

