Wilayah tersebut dipilih karena berada di sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor.
Kabut asap yang semakin pekat berpotensi mengurangi jarak pandang dan mengganggu keselamatan penerbangan.
“Yang kita jaga adalah ring satu yang dekat bandara,” kata Muhidin.
Namun, prioritas tersebut memperlihatkan besarnya persoalan yang harus dihadapi ketika kebakaran terjadi secara bersamaan di banyak lokasi.
Daerah yang berada di luar kawasan prioritas juga membutuhkan perhatian, sementara kemampuan pengerahan bantuan masih terbatas.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah.
Sebab, kebakaran yang tidak segera dikendalikan berpotensi meluas dan memperbesar dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat sekitar.
Muhidin secara khusus menyoroti peningkatan kasus karhutla di Kabupaten Barito Kuala dalam beberapa hari terakhir.
Menurut dia, kondisi di wilayah tersebut cukup memprihatinkan sehingga penjagaan dilakukan siang dan malam.
“Kita ini prihatin juga dengan Barito Kuala, saat ini selalu siang malam kita jaga,” tuturnya.
Peningkatan kasus di Barito Kuala menambah beban penanganan di tengah keterbatasan sumber daya.
Petugas harus bekerja menghadapi kebakaran yang tersebar, sementara dukungan armada menjadi salah satu faktor penentu kecepatan pemadaman.
Dampak karhutla juga tidak hanya dirasakan di lokasi kebakaran. Banjarmasin, misalnya, dilaporkan mengalami paparan kabut asap parah meskipun memiliki titik kebakaran relatif sedikit.



