Allahumma faathiras-samaawaati wal-ardh, ‘aalimal-ghaibi wasy-syahaadah, ar-rahmanar-rahiim.
Inni u’aahiduka fii haadzihil-hayaatid-dunyaa bi-annaka antallaahulladzii laa ilaaha illaa anta wahdaka laa syariika lak, wa anna Muhammadan ‘abduka wa rasuuluk.
Fa laa takilnii ilaa nafsii, fa innaka in takilnii ilaa nafsii tuqarribunii minan-naar, wa tubaa’idunii minal-khair, wa innii laa attaqii illaa bi-rahmatik.
Faj’al rahmataka lii ‘ahdan tuballighunii iyyaahu yaumal-qiyaamah, innaka laa tukhliful-mii’aad.
Artinya:
“Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya aku berjanji kepada-Mu dalam kehidupan dunia ini bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Mu, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.
“Maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri, karena jika Engkau menyerahkanku kepada diriku sendiri, Engkau mendekatkanku pada neraka dan menjauhkanku dari kebaikan. Dan sesungguhnya aku tidak bisa menjaga diri kecuali dengan rahmat-Mu.
“Maka jadikanlah rahmat-Mu bagiku sebagai janji yang Engkau sampaikan padaku pada hari kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.”
Bukan cuma soal doa, Syahrini juga berbicara mengenai kebiasaan ibadah yang selama ini ia jalani.
Ia mengaku mendapatkan pelajaran tersebut dari keluarganya, terutama ayah, abang, dan ibundanya.
Menurut Syahrini, ibadah menjadi bagian dari rutinitas yang harus dijaga jika seseorang ingin mengejar kesuksesan dunia maupun akhirat.
“Mengejar surga itu belum tentu lewat tahajud aja belum tentu, salat dhuha aja tuh belum tentu, sedekah aja tuh belum tentu. Surga itu sangat mahal, kesuksesan juga sangat mahal yang harus kita jalani rutinitasnya,” ujar Syahrini.
Ia kemudian mengungkap kalimat yang langsung menarik perhatian ketika membahas keinginan seseorang untuk mengubah kehidupannya.




