Melalui pernyataan itu, Syahganda mendorong Anies untuk melihat hubungan politik secara lebih luas.
Persaingan dalam pemilu, menurut pandangan yang disampaikannya, tidak harus menutup kemungkinan terjadinya kolaborasi setelah kontestasi selesai.
Ia kemudian mengangkat pengalaman Prabowo yang masuk ke pemerintahan Joko Widodo sebagai Menteri Pertahanan setelah menjadi pesaing Jokowi dalam Pilpres 2014 dan 2019.
Bagi Syahganda, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa rivalitas politik dapat diikuti dengan kerja sama pemerintahan.
Karena itu, ia menilai Anies tidak perlu menjadikan perbedaan politik dengan Prabowo sebagai alasan untuk menolak peluang pengabdian.
Syahganda turut mendorong Prabowo agar mempertimbangkan tokoh-tokoh di luar koalisi pemerintahan.
Dua nama yang disebutnya adalah Mahfud MD dan Ganjar Pranowo.
Ia berpandangan, kemampuan dan pengalaman seseorang semestinya menjadi pertimbangan penting dalam membangun jajaran pemerintahan.
Menurutnya, kesempatan berkontribusi tidak seharusnya hanya diberikan kepada pihak yang merasa paling berjasa dalam memenangkan pemilu.
“Jangan selalu bicara the winner takes all, merasa paling berkeringat lalu yang lain tidak,” kata Syahganda.
Pernyataan tersebut mengarah pada gagasan pembentukan pemerintahan yang lebih terbuka terhadap berbagai latar belakang politik.
Dengan melibatkan figur berpengalaman dari luar koalisi, pemerintah dinilai berpotensi memperoleh tambahan perspektif untuk menjalankan program-program nasional.
Namun, usulan Syahganda masih sebatas pandangan yang disampaikan kepada publik.



