Kemudian ia menyempurnakan shalatnya menjadi empat rakaat dan melakukan dua kali sujud sahwi sebelum salam.
Dasarnya adalah hadis Nabi SAW yang memerintahkan orang yang ragu antara tiga dan empat rakaat untuk meninggalkan keraguan dan berpegang pada jumlah yang diyakini, kemudian melakukan dua kali sujud sebelum salam.
4. Lupa Melakukan Perbuatan Tertentu dalam Shalat
Dalam mazhab Syafi’i, terdapat pula pembahasan mengenai seseorang yang lupa melakukan suatu hal yang apabila dilakukan secara sengaja dapat berpengaruh terhadap keabsahan shalat, tetapi ketika terjadi karena lupa, shalat tidak langsung dihukumi batal.
Dalam kondisi tertentu, sujud sahwi menjadi penyempurna.
Namun, penting membedakan antara rukun shalat dan perkara sunnah.
Jika seseorang meninggalkan rukun, sujud sahwi tidak otomatis menggantikan rukun tersebut.
Misalnya seseorang lupa melakukan satu kali sujud dalam sebuah rakaat. Ia tidak cukup hanya melakukan sujud sahwi pada akhir shalat. Rukun yang tertinggal tersebut harus diperhatikan dan dipenuhi sesuai ketentuan fikih.
Dengan kata lain, sujud sahwi bukan “penghapus” semua kesalahan dalam shalat.
Bagaimana Tata Cara Sujud Sahwi?
Dalam mazhab Syafi’i, sujud sahwi dilakukan sebanyak dua kali sujud dan tempat utamanya adalah sebelum salam.
Tata caranya secara sederhana sebagai berikut:
Pertama, selesaikan shalat sampai tasyahud akhir
Setelah menyelesaikan rakaat terakhir, duduk dan membaca tasyahud akhir serta shalawat sebagaimana biasanya.
Kedua, melakukan sujud pertama
Setelah tasyahud akhir selesai, sebelum salam, berniat melakukan sujud sahwi di dalam hati.
Kemudian bertakbir dan turun melakukan sujud seperti sujud dalam shalat.
Ketiga, membaca zikir ketika sujud
Tidak ada bacaan khusus yang diwajibkan untuk sujud sahwi dalam mazhab Syafi’i. Zikir sujud yang biasa dibaca ketika shalat dapat dibaca.
Namun, terdapat bacaan yang masyhur disebutkan dalam kitab-kitab fikih:
سُبْحَانَ مَنْ لَا يَسْهُو وَلَا يَنَامُ
Subhāna man lā yashū wa lā yanāmu.
Artinya:



