HOLOPIS.COM, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta Pengurus Wilayah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Tengah periode 2026–2031 ikut menjadi penggerak sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Menurut Luthfi, penguatan UMKM menjadi bagian penting agar potensi ekonomi syariah di Jawa Tengah tidak hanya berkembang di sektor industri besar dan lembaga keuangan, tetapi juga mampu memberikan dampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Luthfi saat menghadiri pelantikan Pengurus Wilayah MES Jawa Tengah periode 2026–2031 di Ballroom Pandanaran, Hotel Padma, Kota Semarang, Jumat (2/10/2026).
“MES ini sangat strategis sekali karena mayoritas penduduk Jawa Tengah itu muslim. Saya berharap programnya bisa menumbuhkan ekonomi baru di wilayah kita,” kata Luthfi, dikutip Holopis.com Jateng, Sabtu (3/9/2026).
Jawa Tengah sendiri memiliki populasi sekitar 38 juta jiwa. Dengan besarnya jumlah penduduk muslim, Luthfi melihat terdapat potensi besar untuk mengembangkan ekosistem ekonomi syariah yang sekaligus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Pengembangan ekonomi syariah juga telah masuk dalam arah kebijakan perencanaan pembangunan Jawa Tengah 2025–2029. Bahkan, pada 2027, Pemprov Jateng menempatkan ekonomi syariah sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi bersama dengan pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Karena itu, pengembangan ekonomi syariah dinilai perlu melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, termasuk pelaku UMKM yang selama ini menjadi bagian penting dalam aktivitas ekonomi daerah.
Ekonomi syariah, kata Luthfi, memiliki ruang pengembangan yang luas di tingkat usaha mikro dan kecil. Sektor tersebut mencakup produk halal, pembiayaan syariah, kuliner, fesyen, pariwisata, ekonomi pesantren hingga berbagai jenis usaha masyarakat lainnya.
“Semuanya harus punya nilai lebih, termasuk industri halal. Itulah gunanya ekonomi syariah,” katanya.
Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Ketua Umum PP MES, Rosan Perkasa Roeslani, menilai Jawa Tengah memiliki potensi ekonomi syariah yang besar.
Menurut Rosan, potensi tersebut perlu diikuti dengan koordinasi dan kolaborasi antara MES, pelaku UMKM, dunia usaha, akademisi, serta pemerintah daerah.
Kolaborasi lintas sektor tersebut dinilai penting agar pengembangan ekonomi syariah dapat berjalan secara lebih terarah sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian.
Rosan berharap kontribusi ekonomi syariah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional maupun perekonomian daerah dapat memiliki porsi yang semakin besar.



