Menurutnya, persoalan tersebut merupakan ranah medis.
“Kalau urusan sakit nanti urusan dokter,” ujarnya.
Bagi Pramono, Guruh bukan hanya seniman dan musisi.
Ia mengenang Guruh sebagai budayawan, kreator, sekaligus politisi yang memiliki kecintaan kuat terhadap Indonesia.
“Ini bukan hanya seniman, budayawan, musisi, tetapi juga seorang politisi, tetapi juga seorang kreator,” tutur Pramono.
Ia pun menyampaikan belasungkawa atas kepergian Guruh dan berharap karya-karya yang ditinggalkan sang maestro tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
“Jiwa nasionalisme Mas Guruh itu sangat tinggi sekali,” kata Pramono.
Sementara itu, suasana haru mewarnai pelepasan jenazah Guruh Soekarnoputra. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno dipercaya mewakili keluarga besar Bung Karno untuk membacakan sambutan perpisahan.
Rano menyampaikan sambutan tersebut setelah Menteri Agama Nasaruddin Umar memimpin salat jenazah.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir, di antaranya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, Pramono Anung, serta Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Dengan suara bergetar, Rano mengucapkan terima kasih kepada para pelayat yang hadir untuk mengantarkan Guruh ke peristirahatan terakhir.
“Terima kasih karena telah datang bukan sekadar untuk menyaksikan sebuah perpisahan, tetapi untuk mengantarkan seorang saudara, seorang sahabat, seorang seniman, seorang anak bangsa, sampai ke ujung perjalanan hidupnya,” ujar Rano.
Ia juga memohon maaf atas nama keluarga apabila Guruh pernah melakukan kekhilafan selama hidupnya.



