Dalam posisi tersebut, Tata menjadi salah satu figur yang kerap tampil menjelaskan sikap Indonesia terkait berbagai isu hubungan internasional.
Namun, pengalaman diplomatiknya ternyata sudah jauh lebih panjang.
Tata pernah ditempatkan di Perutusan Tetap RI untuk PBB di New York pada 2008-2012.
Kala itu, ia menangani sejumlah agenda ekonomi dan pembangunan dalam Komite Kedua Majelis Umum PBB serta Dewan Ekonomi dan Sosial.
Ia juga ikut dalam proses perundingan yang berkaitan dengan Kelompok 77 dan China.
Selain itu, Tata mendapat kepercayaan menjadi penasihat bidang ekonomi dan negara-negara kurang berkembang bagi Presiden Majelis Umum PBB sesi ke-65 pada 2010-2011.
Rekam jejaknya di organisasi internasional bukan hanya di New York.
Tata sebelumnya pernah bertugas di PBB Jenewa pada 2001-2005 sekaligus menjalankan peran sebagai negosiator dalam forum WTO.
Menariknya, perjalanan profesional Tata tidak langsung dimulai dari Kementerian Luar Negeri.
Pada 1995-1997, ia sempat bekerja di sektor perbankan.
Setelah itu, Tata bergabung dengan Kementerian Luar Negeri pada 1997 dan mulai menapaki karier sebagai diplomat.
Berbagai penugasan kemudian membawanya ke sejumlah posisi penting, termasuk menjadi duta besar, juru bicara Kemlu, hingga Wakil Menteri Luar Negeri.
Pengalaman tersebut membuat Tata bersentuhan dengan beragam isu, mulai dari ekonomi global, perdagangan internasional, pembangunan, hingga persoalan keamanan dan konflik.



