Holopis.com, Jakarta – Kasus FHUI viral gegerkan publik, Dokter Tirta misuh-misuh di X soroti candaan mesum di grup WA.
Kasus dugaan pelecehan seksual yang mencuat di lingkungan kampus FHUI kembali memantik perhatian publik di media sosial.
Bukan cuma soal kasusnya yang bikin heboh, tapi juga komentar keras dari dokter sekaligus influencer kesehatan, Tirta Mandira Hudhi, atau yang akrab dikenal sebagai Dokter Tirta, di platform X (dulu Twitter).
Dalam unggahannya yang ramai diperbincangkan, Dokter Tirta menyoroti budaya candaan bernuansa seksual yang menurutnya bisa berdampak panjang hingga dewasa.
Ia menegaskan pentingnya kontrol diri dalam berucap, terutama di ruang-ruang percakapan seperti grup chat.
“Terkait kasus rame2 d grup wa. Hikmah yang diambil, tolong Biasakan jangan bercandaan mesum, karena bercandaan tersebut akan menjadi kebiasaan yg dibawa terus menerus sampe dewasa,” tulis Tirta dalam cuitannya.
Ia juga menekankan bahwa dorongan atau “nafsu” tetap harus dikendalikan, bukan dibiarkan tanpa batas.
“Kalo ngacengan itu dikontrol. Bukan ngacengan sak nggon2. Otak kok isine kenta kentu,” lanjutnya dalam unggahan yang langsung viral dan memicu ribuan respons.
Tak berhenti di situ, Tirta kembali menegaskan pesannya lewat balasan cuitan yang juga ramai dibagikan ulang pengguna lain.
“Mau grup wa kek, grup line. Intine, jangan normalisasi guyonan mesum sak nggon2,” tulisnya menambahkan penekanan soal bahaya normalisasi candaan seksual di ruang sosial.
Unggahan tersebut langsung menyedot perhatian warganet. Banyak yang sepakat dengan pesan yang disampaikan, terutama soal pentingnya menjaga batas dalam bercanda di lingkungan kerja maupun komunitas.
Sejumlah netizen bahkan menyoroti bahwa fenomena candaan bernuansa seksual masih sering dianggap “biasa” di berbagai ruang, termasuk tempat kerja.
“Banyak tmpt kerja juga, tmpt yg tdk aman bagi perempuan. Berdalih ‘biasa candaan laki2, biasa tuh cowok2, yg ketahuan apes saja’. Hmmmmm…..selamat bersih2 group lah pada, sebelum pada dilaporkan,” tulis akun @resmiyarti.
Sementara itu, ada juga netizen yang mengaitkan isu ini dengan pentingnya pengendalian diri dan aktivitas positif.
“Jiwa muda dan stresnya diarahkan dan dikontrol dengan berpuasa, meditasi, olahraga dan kreativitas,” tulis akun @bloomx9777.
Netizen lain bahkan menyinggung soal gaya hidup sehat sebagai bentuk kontrol diri.
“Ngaceng? Lari! Ngaceng? Push Up! Ngaceng? Angkat Beban! Ngecng? Pull Up! Menuju Indonesia Atletis!!” tulis akun @K_Gen1 dengan nada satir.
Di sisi lain, ada pula komentar yang menyoroti potensi dampak jangka panjang dari candaan atau perilaku verbal yang dianggap normal namun sebenarnya berisiko.
“Lebih bahaya lagi kalau next time mereka juga jadi pelaku pelecehan untuk anak perempuannya sendiri… karena dari chat yang beredar sudah ada korban kekerasan seksual secara verbal,” tulis akun @atree8396.
Ada juga desakan agar figur publik seperti Dokter Tirta membuat edukasi singkat untuk memperluas pemahaman masyarakat.
“Dok tolong bikin video pendek, pake marah-marah, DAN HARUS MARAH-MARAH BANGET. isinya ngeingetin bos-bos yg suka guyon mesum waktu rapat dok,” tulis akun @uy_uyyunnn.
Ramainya respons publik ini menunjukkan bahwa isu pelecehan verbal dan budaya candaan seksual di ruang sosial masih menjadi perhatian serius.
Banyak pihak menilai, kasus seperti ini harus menjadi momentum untuk evaluasi bersama, baik di lingkungan pendidikan, kerja, maupun komunitas digital.
Hingga kini, unggahan Dokter Tirta masih terus dibagikan ulang dan menjadi bahan diskusi panas di media sosial, seiring meningkatnya sorotan publik terhadap kasus FHUI yang tengah viral tersebut.



