HOLOPIS.COM, JAKARTA – Bencana karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di Provinsi Riau hingga saat ini masih belum dipadamkan oleh petugas gabungan.
Di Provinsi Riau, total luas lahan terbakar sudah mencapai 15.372,88 hektare. Penambahan luasan kebakaran terjadi di Desa Rawa Sekip, Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu seluas sekitar 0,5 hektare.
“Penanganan dilakukan melalui operasi darat dan operasi udara oleh BNPB bersama pemerintah daerah,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam pernyataannya yang dikutip Holopis.com, Rabu (29/7).
Di Provinsi Sumatera Selatan, luas lahan terbakar sejak awal tahun mencapai 664,87 hektare yang tersebar di 12 kabupaten, dengan total 520 kejadian karhutla hingga 28 Juli 2026.
“Operasi udara BNPB masih terus dilaksanakan untuk mendukung pemadaman dan mencegah meluasnya kebakaran,” ucapnya.
Di Provinsi Jambi, luas lahan terbakar mencapai 213,05 hektare yang tersebar di 9 kabupaten dan 2 kota. Padahal, tim Operasi Udara BNPB terus mendukung upaya penanganan bersama pemerintah daerah.
Di Provinsi Kalimantan Barat, total luas lahan terbakar hingga 25 Juli 2026 mencapai 28.680,47 hektare berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan. Operasi udara dan pemadaman darat masih terus dilakukan untuk menekan potensi perluasan kebakaran.
Di Provinsi Kalimantan Tengah, total luas lahan terbakar hingga Minggu (26/7) mencapai 1.268,33 hektare, bertambah sekitar 83,89 hektare dibandingkan sebelumnya. Sementara itu, di Provinsi Kalimantan Selatan, total luas lahan terbakar mencapai 1.029,75 hektare.
“Pemerintah provinsi masih memberlakukan status siaga darurat hingga 31 Oktober 2026, sementara operasi udara dan darat terus dilaksanakan,” jelasnya.
Di Provinsi Aceh, kebakaran lahan di Kabupaten Aceh Barat masih dalam proses pemadaman dan penyekatan. Hingga Selasa (28/7), total luas lahan terbakar mencapai 13 hektare dan beberapa titik asap masih terpantau sehingga proses pendinginan terus dilakukan.
Sementara itu, di Provinsi Jawa Timur, karhutla di Kabupaten Probolinggo yang terjadi sebelumnya telah berhasil dikendalikan. Meski titik api tidak lagi terpantau, petugas tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya kebakaran susulan.
Abdul mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Upaya pencegahan karhutla perlu diperkuat dengan tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, meningkatkan patroli di wilayah rawan, serta memastikan ketersediaan sumber air yang dapat diakses untuk penanganan dini.Di samping itu, masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak dalam menghadapi ancaman kekeringan.
“Mengantisipasi potensi ancaman bahaya, masyarakat dapat mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan instansi terkait, serta segera melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran maupun kondisi darurat lainnya agar dapat segera ditangani. Kesiapsiagaan dan respons cepat seluruh unsur menjadi kunci dalam meminimalkan risiko serta dampak bencana,” imbaunya.



