HOLOPIS.COM, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjerembab di zona merah dan kembali ke bawah level psikologis 9.000 pada penutupan perdagangan hari ini, Senin (2/3/2026).
Tekanan pasar dipicu sentimen geopolitik global hingga data ekonomi domestik terbaru.
Berdasarkan data RTI yang dihimpun Holopis.com, IHSG ambruk 218,652 poin atau setara 2,65 persen ke posisi 8.016, meskipun sempat berada di level 8.092.
Dari sisi transaksi, total volume saham yang diperdagangkan mencapai 56,605 miliar saham dengan nilai Rp29,836 triliun. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp14,370 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 3.652.154 kali.
Secara sektoral dan pergerakan saham, sebanyak 108 saham menguat. Namun, tekanan lebih dominan dengan 671 saham melemah dan 41 saham lainnya stagnan.
Sentimen Geopolitik Tekan IHSG
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim menilai pelemahan IHSG pada penutupan sore ini dipengaruhi oleh memanasnya konflik Iran dan Israel-Amerika Serikat (AS).
Ia mengatakan, serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran memicu perang terbuka dan membuat investor global cenderung menghindari aset-aset berisiko.
“Namun, mayoritas saham-saham terkait energi dan tambang emas membukukan penguatan, sehingga menahan pelemahan IHSG lebih lanjut,” ujar Ratna dalam kajiannya, dikutip Holopis.com.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak mentah juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global. Jika kondisi ini berlangsung lama, potensi kenaikan suku bunga di tingkat global pun semakin terbuka.
Inflasi Naik
Dari sisi domestik, data menunjukkan inflasi Indonesia meningkat menjadi 0,68 persen month to month (mtm) pada Februari 2026, dari sebelumnya deflasi 0,15 persen (mtm) pada Januari 2026.
Kenaikan inflasi terutama dikontribusikan oleh Kelompok Pengeluaran Makanan, Minuman dan Tembakau, yang menjadi komoditas penyumbang utama inflasi pada momen Ramadan.
Secara tahunan, inflasi berakselerasi menjadi 4,76 persen year on year (yoy) pada Februari 2026 dari sebelumnya 3,55 persen (yoy) pada Januari 2026. Angka ini menjadi level tertinggi sejak Maret 2023.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh adanya diskon tarif listrik pada awal 2025 yang sempat menekan harga pada periode sebelumnya.
Surplus Neraca Perdagangan Menyusut
Sementara itu, surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut menjadi USD0,95 miliar pada Januari 2026, dibandingkan USD3,49 miliar pada Januari 2025.
Penyusutan surplus terjadi akibat kenaikan impor sebesar 18,21 persen (yoy), sementara ekspor hanya tumbuh 3,39 persen (yoy).
Di tengah tekanan tersebut, data Manufacturing PMI Indonesia masih menunjukkan ekspansi di level 53,8 pada Februari 2026, naik dari 52,6 pada Januari 2026. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya permintaan domestik.
Dengan kombinasi sentimen global dan domestik tersebut, pelaku pasar masih mencermati perkembangan konflik geopolitik serta arah kebijakan moneter global yang berpotensi memengaruhi pergerakan IHSG dalam waktu dekat.



