Mereka mengaku mengetahui adanya anak ayam yang dijual kemudian diberi warna atau cat sebelum dipasarkan.
“Kami memilih mengambil sebagian dari mereka sebelum proses tersebut, dengan harapan mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk dirawat dengan lebih baik,” ujar pasangan tersebut dalam unggahannya.
Dengan demikian, pemberian anak ayam sebagai souvenir disebut bukan semata-mata untuk memberikan sesuatu yang unik kepada tamu undangan.
Pasangan tersebut mengungkapkan adanya niat untuk menyelamatkan anak ayam dari proses pewarnaan.
Meski begitu, mereka menyadari pemberian hewan hidup sebagai souvenir dapat menimbulkan persoalan, terutama bagi tamu yang tidak memiliki kemampuan atau kesiapan untuk merawatnya.
Rangga dan Nunu pun menyampaikan permintaan maaf atas kontroversi yang muncul.
Mereka juga menyatakan siap mengambil kembali anak ayam yang diberikan apabila ada tamu yang tidak mampu memeliharanya.
“Kami siap mengambilnya kembali dan memastikan mereka mendapatkan perawatan yang semestinya,” tandasnya.
Sebelumnya, keberadaan souvenir anak ayam hidup tersebut menjadi sorotan setelah muncul dugaan bahwa beberapa tamu meninggalkan atau membuang hewan tersebut.
Seorang ojol bahkan disebut memilih mengamankan anak ayam yang terlantar untuk kemudian dibawa pulang dan dirawat.
Peristiwa tersebut kemudian memicu beragam tanggapan di media sosial.
Sebagian warganet mempertanyakan keputusan menggunakan makhluk hidup sebagai souvenir, sementara pasangan pengantin telah menjelaskan alasan dan tanggung jawab mereka terkait anak ayam tersebut.
Hingga kini, souvenir pernikahan berupa anak ayam hidup itu masih menjadi perbincangan di media sosial.



