Dengan kata lain, kejang bukan bukti otomatis bahwa racun makanan telah menyerang otak.
Begitu pula gangguan ingatan yang dialami Febiola belum bisa langsung dikaitkan dengan bakteri tertentu.
Bakteri memang dapat menyebabkan keracunan makanan.
Masalahnya, tidak semua bakteri bekerja dengan cara yang sama.
Ada bakteri yang menghasilkan racun yang terutama menyerang saluran pencernaan.
Ada pula toksin bakteri tertentu yang dapat memengaruhi sistem saraf.
Contohnya Staphylococcus aureus. Bakteri ini dapat menghasilkan enterotoksin yang memicu mual, muntah, kram perut dan diare.
Gejalanya bahkan dapat muncul relatif cepat setelah makanan dikonsumsi.
Kemudian ada Bacillus cereus, yang dapat menyebabkan gangguan muntah atau diare tergantung toksin yang terlibat.
Sementara Escherichia coli penghasil toksin Shiga (STEC) dapat menyebabkan diare, termasuk diare berdarah, dan dalam kondisi tertentu menimbulkan komplikasi serius.
Yang berbeda adalah Clostridium botulinum, toksin botulinum bekerja pada sistem saraf.
Racun ini dapat menyebabkan kelemahan otot, kesulitan menelan hingga kelumpuhan pernapasan.
“Tetapi ada satu hal pentinggambaran khas botulisme bukanlah kehilangan ingatan,” sebutnya.



