“Dari awal tiba-tiba disuruh pergi dan tiba-tiba Pak Yobi ini langsung tiba-tiba malah melangkahi kita, langsung menyuruh supir kita untuk putar balik dengan diteriak-teriaki sampai supir kita merasa tidak nyaman,” ujarnya.
Fatimah bahkan mengaku sempat mengalami tindakan fisik saat berusaha mempertahankan keberadaan mobil komando tersebut.
“Bahkan Pak Yobi ini berusaha untuk menggunakan fisik kepada saya,” kata Fatimah.
Situasi antara mahasiswa dan aparat sempat diwarnai aksi dorong-mendorong dan tarik-menarik.
Meski begitu, kondisi kemudian kembali terkendali.
Di tengah ketegangan tersebut, Fatimah juga terlihat emosional ketika meminta aparat mendengarkan aspirasi mahasiswa.
Ia berharap komunikasi antara mahasiswa dan polisi bisa dilakukan dengan kepala dingin agar situasi tidak semakin memanas.
“Yang kami minta adalah kita saling mendengarkan. Kita bergantian menyampaikan aspirasi, jangan sampai situasi ini semakin memperkeruh keadaan,” ujar Fatimah.
Fatimah menegaskan mahasiswa datang untuk menyampaikan kritik dan aspirasi, bukan membuat kericuhan.
Menurutnya, mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan pandangan di ruang publik.
Meski menegaskan akan terus memperjuangkan aspirasi mahasiswa, Fatimah mengatakan keselamatan peserta aksi tetap menjadi prioritas.
Hal itu disampaikan karena dalam pengamanan aksi tersebut terdapat aparat kepolisian dan TNI.
“Kita akan berusaha semaksimal mungkin, tapi dari kita sendiri tetap mengutamakan keamanan dari teman-teman mahasiswa juga. Karena kita tidak pernah tahu, polisi, apalagi ada TNI, akan seperti apa. Kita mengutamakan keselamatan,” tegasnya.



