HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kematian Ali Larijani dalam serangan udara Israel menandai hilangnya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam struktur kekuasaan Iran. Larijani bukan sekadar pejabat tinggi, tapi juga sebagai ‘arsitek’ kebijakan keamanan dan politik luar negeri Iran selama puluhan tahun.
Ali Larijani bukan sosok biasa dalam lanskap politik Iran. Ia lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak, dari keluarga terpandang asal Amol, Iran. Latar belakang itu yang membentuk jalan Larijani menuju lingkar kekuasaan tertinggi negara tersebut.
Mengutip dari Aljazeera, Kamis, (18/3/2026), Majalah Time bahkan pernah menjulukinya sebagai “Kennedy-nya Iran” pada 2009. Kondisi itu merujuk pada pengaruh besar keluarganya dalam politik nasional Iran.
Larijani merupakan putra dari Mirza Hashem Amoli, seorang ulama terkemuka yang memiliki pengaruh besar dalam dunia keagamaan Iran.
Keluarga Larijani dikenal sebagai salah satu dinasti elite yang menempati berbagai posisi strategis di pemerintahan. Saudara-saudaranya menduduki jabatan penting, mulai dari lembaga peradilan hingga Majelis Pakar—institusi yang memiliki kewenangan memilih dan mengawasi pemimpin tertinggi Iran.
Latar belakang ini menjadikan Larijani tidak hanya kuat secara politik. Tapi, juga memiliki legitimasi religius yang kental dalam sistem Republik Islam.
Kedekatan Larijani dengan elite revolusi Iran tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga personal.
Pada usia 20 tahun, ia menikahi Farideh Motahari, putri dari Morteza Motahhari—tokoh penting dan orang kepercayaan Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran.
Pernikahan ini memperkuat posisinya di jantung kekuasaan pascarevolusi 1979. Kondisi itu menghubungkannya langsung dengan jaringan ideologis dan politik yang membentuk Iran modern.
Dinasti Politik
Meski berasal dari keluarga religius konservatif, generasi Larijani menunjukkan dinamika yang lebih luas.
Anak-anaknya menempuh jalur pendidikan dan karier yang beragam, termasuk di luar Iran. Salah satunya adalah putrinya, Fatemeh Larijani, yang merupakan lulusan kedokteran dari Universitas Teheran.
Ia kemudian melanjutkan pendidikan spesialis di Cleveland State University, AS, sebuah gambaran kontras antara akar konservatif keluarga dengan keterbukaan terhadap pendidikan global.
Dengan latar belakang keluarga, koneksi politik, dan jaringan ideologis yang kuat, Larijani menjadi representasi dari elite lama Iran. Kelompok elite lama Iran mengimplementasikan perpaduan kekuatan agama, politik, dan keluarga dalam satu poros kekuasaan.
Julukan ‘Kennedy-nya Iran’ bukan sekadar metafora. Julukan itu cerminan dari bagaimana pengaruh keluarga Larijani membentuk arah politik negara selama beberapa dekade.
Dari Militer hingga Parlemen
Karier Larijani dimulai dari militer, bergabung dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) setelah Revolusi Islam 1979. Sejak itu, ia terus naik ke lingkar kekuasaan.
Ia pernah menjabat berbagai posisi penting, di antaranya: Kepala penyiaran nasional Iran; Menteri Kebudayaan Iran; Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi; Ketua Parlemen Iran (2008–2020).
Ia juga dikenal sebagai negosiator nuklir utama Iran pada pertengahan 2000-an dan memainkan peran penting dalam pembicaraan dengan Barat.
Media internasional seperti Reuters menyebut Larijani sebagai tokoh yang bekerja di balik layar dengan ikut menentukan arah kebijakan negara.
Ia dikenal pragmatis, tetapi tetap loyal terhadap sistem teokrasi Iran. Kombinasi ini membuatnya menjadi jembatan antara kelompok garis keras militer dan elite politik sipil.
Bahkan setelah wafatnya pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Larijani disebut sebagai salah satu figur paling berpengaruh yang “secara efektif menjalankan negara” dalam situasi krisis.



