Sementara warna putih di bagian luar berasal dari batuan dan mineral yang mengalami perubahan atau alterasi akibat interaksi dengan fluida serta gas panas.
Dengan kata lain, pemandangan yang tampak unik dari udara itu sebenarnya merupakan hasil proses alam yang terjadi di dalam sistem kawah.
Daryono menyebut istilah “telur ceplok” hanya digunakan untuk menggambarkan bentuk visual fenomena tersebut. Istilah itu bukan nama resmi dalam ilmu vulkanologi.
Ia menjelaskan fenomena tersebut sebagai genangan kawah yang mengalami perubahan geokimia akibat interaksi air, gas vulkanik, dan batuan atau dikenal dengan proses acid-sulfate alteration.
Fenomena semacam ini juga dapat muncul atau mengalami perubahan setelah suatu episode erupsi karena sistem hidrotermal dan suplai gas di dalam kawah mengalami perubahan.
Penjelasan senada disampaikan Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno.
Ia memastikan penampakan tersebut bukan material baru yang muncul akibat letusan.
Menurut Suwarno, pola seperti telur ceplok terbentuk karena adanya genangan air di kawasan kawah yang terkontaminasi gas belerang.
“Jadi itu adalah air yang terkontaminasi dengan gas belerang,” kata Suwarno.
Belerang sendiri merupakan material yang umum ditemukan di kawasan gunung api.
Namun, bukan berarti setiap gunung api akan memiliki genangan dengan tampilan seperti telur ceplok.
Pada Gunung Anak Krakatau, terdapat genangan air di area kawah yang kemudian bercampur dengan belerang dan material dari lapisan dinding kawah.
Campuran tersebut kemudian memengaruhi warna permukaan genangan.



