Danau tersebut muncul setelah runtuhnya gletser yang sebelumnya memicu banjir bandang. Otoritas Nepal dan China sempat memperingatkan adanya kemungkinan air danau meluap dan membawa material tambahan ke wilayah yang berada di bawahnya.
Kekhawatiran tersebut membuat sejumlah tim penyelamat yang hendak menuju kawasan bencana sempat diminta menghentikan perjalanan untuk sementara. Warga yang berada di wilayah berpotensi terdampak juga diminta berpindah ke tempat yang lebih aman.
Kepolisian Nepal bahkan mengeluarkan peringatan baru setelah menerima informasi mengenai jebolnya sebuah bendungan di sisi Tibet. Personel keamanan serta tim penyelamat dan bantuan diminta meningkatkan kewaspadaan dan bersiap berpindah apabila kondisi membahayakan.
Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan ukuran danau tersebut mulai menyusut. Data pemantauan Kementerian Sumber Daya Air China menunjukkan permukaan air turun sekitar 10 meter dari titik tertingginya pada Kamis pagi.
Di kawasan Gyirong, sekitar 680 personel penyelamat akhirnya berhasil mencapai lokasi melalui jalur darat dan menggunakan rakit. Sebagian lainnya diturunkan menggunakan drone untuk menjangkau area yang sulit diakses.
Di tengah proses pencarian, para penyelamat terus berusaha menemukan korban yang mungkin masih bertahan di balik reruntuhan.
“Siapa pun, siapa pun?” teriak para penyelamat ketika menyisir kawasan terdampak, berdasarkan rekaman yang disiarkan media pemerintah China.
Pemerintah Nepal juga akhirnya mengizinkan tim dan tenaga ahli asing untuk membantu proses pencarian dan penyelamatan. Keputusan tersebut diambil setelah sebelumnya pemerintah sempat menolak bantuan dari tim luar negeri.
Hingga kini, proses pencarian masih berlangsung. Jumlah korban maupun orang yang hilang masih berpotensi berubah seiring tim penyelamat membuka akses ke wilayah-wilayah yang sebelumnya terisolasi akibat kerusakan jalan dan infrastruktur.



