HOLOPIS.COM, JAKARTA — Perhelatan seni rupa bergengsi ArtMoments Jakarta 2026 resmi dibuka pada Kamis (4/6/2026) dengan menyajikan kolaborasi apik antara karya seni nasional dan internasional.
Mengusung tema mendalam “Intimacy of Offerings: Matter, Memory, and Connection”, ajang tahunan ini siap menyuguhkan dialog visual yang mempertemukan warisan sejarah seni dengan perkembangan seni kontemporer.
Pameran yang diselenggarakan di Jakarta ini akan dibuka untuk masyarakat umum mulai tanggal 5 hingga 7 Juni 2026 mendatang.
Pihak penyelenggara menargetkan kunjungan sebanyak 25.000 pencinta seni dari berbagai kalangan selama tiga hari pelaksanaannya.
Skala penyelenggaraan tahun ini terbilang masif dengan menggandeng sekitar 75 eksibitor dari dalam dan luar negeri.
Ajang bergengsi ini juga berhasil menarik partisipasi dari 12 negara serta menghadirkan puluhan galeri seni terkemuka dunia.
Daya tarik utama yang paling dinantikan publik pada edisi kali ini adalah dipamerkannya karya-karya legendaris dari para maestro seni rupa Indonesia.
Pengunjung berkesempatan menyaksikan langsung goresan kuas bersejarah dari tokoh besar seperti S. Sudjojono, Affandi, hingga Mochtar Apin.
Karya-karya bersejarah milik para maestro tanah air tersebut dipajang berdampingan dengan karya kontemporer mutakhir dari para seniman internasional masa kini.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, hadir secara langsung untuk meresmikan pembukaan pameran tersebut pada hari pertama.
Dalam sambutannya, Teuku Riefky menegaskan bahwa ekonomi kreatif saat ini tidak lagi sekadar urusan transaksi dagang belaka.
Menurutnya, kreativitas di bidang seni rupa telah menjelma menjadi soft power bangsa yang mampu membangun pengaruh dan memperkuat identitas budaya Indonesia di mata dunia.
Kehadiran Wakil Menteri Ekraf Irene Umar dalam upacara pembukaan turut mempertegas komitmen dan dukungan penuh pemerintah terhadap ekosistem seni rupa tanah air.
Fair Director ArtMoments, Sendy Widjaja, menjelaskan bahwa tema “Offerings” sengaja dipilih untuk menjadikan pameran ini sebagai ruang perjumpaan yang intim dalam merawat warisan para maestro.
Ia menambahkan bahwa seni rupa bukan sekadar apa yang dinikmati hari ini, melainkan investasi nilai dan identitas kebudayaan yang terus dibangun untuk generasi masa depan.



