HOLOPIS.COM, KUDUS – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan mayoritas lulusan sekolah vokasi di wilayahnya telah terserap di dunia industri. Dari total 1.529 sekolah vokasi yang ada, sekitar 90 persen lulusannya langsung bekerja di berbagai sektor industri.
“Dari 10 persen yang belum terserap, karena belum cukup umur untuk melanjutkan kerja,” kata Luthfi saat melakukan kunjungan bersama Menteri Perdagangan Budi Santoso di sejumlah sekolah vokasi di Kabupaten Kudus, Kamis (12/3/2026), dikutip Holopis.com.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan mendatangi beberapa sekolah vokasi, di antaranya SMK Raden Umar Said, SMK NU Banat Kudus, serta SMK Wisudha Karya Kudus. Kunjungan ini juga dihadiri Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dan Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton.
Selama kunjungan, rombongan meninjau berbagai kegiatan pembelajaran sekaligus karya siswa dari sejumlah bidang keahlian.
Di SMK Raden Umar Said Kudus, mereka melihat langsung karya animasi yang dibuat para siswa. Sementara di SMK NU Banat Kudus, rombongan menyaksikan karya siswa di bidang fesyen dan kewirausahaan, termasuk peragaan busana serta berbagai produk kreatif yang dikembangkan oleh para siswa.
Adapun di SMK Wisudha Karya Kudus, rombongan meninjau program pembelajaran vokasi di bidang pelayaran yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor maritim.
Menurut Luthfi, keberagaman kompetensi yang diajarkan di sekolah vokasi menunjukkan kesiapan generasi muda Jawa Tengah untuk langsung terjun ke dunia kerja.
“Ini merupakan bentuk (bukti) bahwa masyarakat kita sudah siap pakai. Anak-anak muda kita di sekolah-sekolah vokasi di Jawa Tengah, siap bekerja di perusahaan-perusahaan yang ada di wilayah kita,” ujarnya.
Untuk memperkuat kesiapan tenaga kerja tersebut, pemerintah daerah terus mendorong pengembangan sekolah vokasi, investasi padat karya, serta memperbanyak Balai Latihan Kerja (BLK) di berbagai kabupaten dan kota.
Salah satu siswa SMK Raden Umar Said Kudus, Haidar, mengaku kemampuannya di bidang animasi berkembang pesat meski baru duduk di kelas XI. Ia berharap kelak dapat menjadi animator profesional dan berkarya di industri animasi.
Di sekolah tersebut, para siswa sudah terbiasa mengerjakan proyek dari industri sehingga memiliki pengalaman kerja sebelum lulus. Bahkan, beberapa karya siswa telah terjual ke pasar internasional seperti Amerika Serikat dan Jepang.
Sementara itu, siswa SMK NU Banat Kudus, Hannah Rahmania Putri, mengatakan para siswa tidak hanya belajar desain, tetapi juga mengembangkan produk yang siap dipasarkan.
“Untuk semester ini kami sedang mengembangkan beberapa produk, seperti card holder, lanyard, dompet, dan sabuk,” ujarnya.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menambahkan pemerintah siap membantu membuka akses pasar internasional bagi berbagai produk kreatif yang dihasilkan siswa, termasuk karya animasi.
Menurutnya, Kementerian Perdagangan memiliki jaringan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di berbagai negara untuk mempromosikan produk Indonesia ke pasar global.
“Kalau ada produk jasa seperti animasi dari teman-teman SMK ini, kami bisa membantu mempertemukan dengan permintaan pasar di luar negeri,” kata Budi.



