HOLOPIS.COM, JAKARTA – Dukungan terhadap film edukasi kebangsaan Ageman terus mengalir dari sejumlah tokoh dan pakar. Pengamat militer, intelijen sekaligus pakar terorisme Stanislaus Riyanta menyatakan dukungan penuh terhadap film yang mengangkat tema toleransi dan keberagaman tersebut.
Menurut Stanislaus, kehadiran Ageman dapat menjadi terobosan dalam memperkuat strategi kontra-radikalisasi, khususnya untuk membentengi generasi muda dari paparan paham ekstrem.
Ia menilai upaya pencegahan radikalisme dan terorisme tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan penindakan hukum maupun kegiatan formal. Diperlukan media populer yang mampu menyentuh aspek psikologis masyarakat, terutama generasi muda yang rentan terpapar ideologi kekerasan di ruang digital.
“Intoleransi dan radikalisme adalah ancaman nyata yang kerap kali masuk melalui celah kerentanan sosial, seperti perundungan (bullying) serta minimnya ruang dialog. Hadirnya film Ageman menjadi angin segar karena menggunakan pendekatan kreatif yang komunikatif untuk membentengi moral dan pikiran generasi muda kita,” ujar Stanislaus, Sabtu (3/10/2026).
Film Ageman disutradarai Jasper Lance dan diproduseri Ken Setiawan, mantan aktivis gerakan radikal yang kini konsisten mengemban misi moderasi beragama.
Alur cerita film tersebut diadaptasi dari kisah nyata perjalanan hidup Ken Setiawan yang mengalami transformasi dari lingkungan radikalisme menuju komitmen kebangsaan.
Stanislaus mengaku memiliki kedekatan personal dengan Ken Setiawan. Ia menyebut keduanya pernah menjalani studi bersama di Yordania dan Israel.
“Mas Ken itu sahabat saya, kita pernah study bareng di Yordania dan Israel. Jadi saya sangat mendukung ide berlian dan terobosan cara mengisi ruang kosong anak muda melalui media film ini,” ungkapnya.
Secara filosofis, Ageman yang bermakna pakaian atau pegangan hidup membawa pesan tentang keberagaman Indonesia. Perbedaan suku, ras, dan agama dipandang sebagai bagian dari realitas kebangsaan yang seharusnya menjadi kekuatan untuk saling melengkapi, bukan pemicu permusuhan.
Stanislaus pun mendorong agar film tersebut tidak hanya diputar untuk masyarakat umum, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media edukasi di lingkungan pendidikan.
Ia berharap institusi aparat dan pemerintah, termasuk sekolah, perguruan tinggi hingga pondok pesantren di seluruh Indonesia, dapat memanfaatkan Ageman sebagai bahan diskusi maupun agenda nonton bersama.
“Pendekatan melalui film dapat membuka ruang dialog yang lebih dekat dengan generasi muda sekaligus menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat nilai toleransi dan mencegah berkembangnya paham radikal sejak dini,” pungkasnya.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...