HOLOPIS.COM, BANDUNG – Komisi XIII DPR RI menyoroti pemenuhan kebutuhan warga binaan di lembaga pemasyarakatan (lapas), termasuk gagasan penyediaan bilik keluarga sebagai bagian dari pembenahan sistem pemasyarakatan.
Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya mengatakan, kebutuhan warga binaan perlu ditempatkan dalam kerangka pemasyarakatan yang tidak semata-mata berorientasi pada pemenjaraan.
Hal tersebut disampaikan Willy saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XIII DPR RI ke Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Jawa Barat, Jumat petang (25/9/2026).
Menurut Willy, kehidupan warga binaan berlangsung dengan intensitas interaksi yang tinggi sehingga membutuhkan pengaturan yang tepat. Pemenuhan kebutuhan dasar hingga aspek privat, menurutnya, menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan lapas.
“Maka kemudian, bilik keluarga itu menjadi satu kebutuhan. Itu konsepnya bukan pemenjaraan kok, konsepnya adalah warga binaan di dalam lembaga pemasyarakatan,” jelas Legislator Dapil Jawa Timur XI itu, dikutip Holopis.com, Senin (28/9/2026).
Willy menilai, gagasan tersebut tidak dapat dilepaskan dari perubahan paradigma dari sistem pemenjaraan menuju pemasyarakatan.
Ia mengatakan, lapas semestinya tidak hanya menjadi tempat warga binaan menjalani masa hukuman, tetapi juga menjadi ruang pembinaan agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara normal setelah berada di tengah masyarakat.
“Kita sudah mengandung konsep namanya pemasyarakatan, yang menjadi ruang hidup, ruang tumbuh yang kemudian memanusiakan secara normal kembali. Itu yang menjadi baseline,” tuturnya.
Dalam konteks yang lebih luas, Willy mengatakan Komisi XIII juga tengah mendorong penyusunan regulasi pemasyarakatan yang berbasis ilmu pengetahuan dan data. Upaya tersebut dilakukan dengan melibatkan sejumlah pakar dalam pembahasan regulasi.
“Kami sudah tiga kali mengundang pakar, melibatkan pakar, ingin membangun regulasi yang saintifik, berbasiskan data,” ujar Politisi Fraksi Partai NasDem ini.
Menurutnya, pendekatan berbasis data diperlukan agar kebijakan pemasyarakatan dapat menjawab persoalan nyata yang dihadapi warga binaan maupun pengelola lapas.
Selain pemenuhan kebutuhan warga binaan, Willy juga menyoroti aspek kesehatan di dalam lapas. Ia mendorong agar pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada penanganan warga binaan yang sudah mengalami sakit, tetapi juga memperkuat langkah pencegahan melalui edukasi.
“Saya melihat konteks utama saya tadi ajak dialog dokternya, yang penting adalah lebih baik mencegah daripada mengobati,” katanya.



