HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kekeringan masih menjadi perhatian pemerintah karena dampaknya bisa merembet ke banyak sektor. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga ketersediaan air dan mengantisipasi periode kekeringan yang diperkirakan berlangsung cukup panjang.
BNPB menyiapkan empat strategi, mulai dari mengoptimalkan cadangan air, membangun sumur dalam, hingga memastikan distribusi air bersih tetap merata di daerah terdampak.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, pola kekeringan dalam rentang 2015–2025 secara umum terjadi mulai Mei hingga Desember.
Meski begitu, waktu puncaknya tidak selalu sama setiap tahun.
Pada 2018, misalnya, puncak kekeringan tercatat terjadi pada Juli. Sementara pada 2023, puncak kekeringan terjadi pada September.
Variasi tersebut membuat pemerintah perlu mengantisipasi kondisi sejak awal, terlebih curah hujan di sejumlah wilayah tidak selalu merata.
“Jadi ini perlu disikapi dengan bijak oleh semua warga negara karena ini juga bisa mengganggu produksi pertanian, menurunkan ketersedian air bersih, meningkatkan risiko kebakaran, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan serta kesehatan masyarakat,” ujar Berton dalam konferensi pers, Selasa (15/9).
Empat Strategi BNPB
BNPB menyiapkan empat langkah utama untuk menghadapi dampak kekeringan.
Pertama, mengoptimalkan cadangan air.
Upaya ini dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sekaligus mengisi kembali embung, danau, waduk, serta berbagai tempat penampungan air lainnya.
Pelaksanaannya akan melibatkan BNPB bersama unsur pemerintah terkait.
Kedua, memperkuat sarana air di daerah.
BNPB akan membantu daerah meningkatkan kemampuan menghadapi kekeringan, salah satunya melalui penyediaan sarana dan prasarana air.
Pembangunan sumur dalam menjadi salah satu langkah yang dilakukan di sejumlah wilayah.



