JAKARTA, HOLOPIS.COM – Founder Restorasi Jiwa Indonesia (RJI) Syam Basrijal mengatakan bahwa setiap insan Narasraya harus mempersiapkan diri dalam rangka mempersiapkan karier selanjutnya setelah purna tugas. Hal ini disampaikannua dalam agenda FGD (Focus Group Discussion) Narasraya.
Ditekankan Syam, bahwa kesiapan mental, transformasi identitas, dan mentalitas entrepreneur adalah fondasi penting yang harus benar-benar dipersiapkan secara matang. Apalagi pengalaman panjang sebagai ajudan sesungguhnya merupakan modal yang sangat penting dan berharga.
“Pengalaman itu telah membentuk sejumlah modal karakter yang sangat berharga untuk memasuki dunia profesional maupun kewirausahaan, seperti disiplin, loyalitas, kecepatan eksekusi, kemampuan membaca situasi, manajemen tekanan, dan integritas,” kata Syam Basrijal dalam FGD Narasraya di Hotel RA Suites Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu (8/8/2026).
Ia mengingatkan bahwa modal besar tersebut jangan sampai ditinggalkan ketika seseorang beralih profesi. Justru menurutnya, seluruh pengalaman itu perlu dikonversi menjadi kompetensi, jaringan, kemampuan kepemimpinan, dan kapasitas menciptakan nilai.
“Yang perlu diubah bukan karakternya, tetapi paradigma berpikirnya,” tegasnya.
Dalam paparannya dengan materi Strategi Alih Profesi: Mengoptimalkan Ketangkasan dan Mentalitas Ajudan dalam Menghadapi Tantangan Kewirausahaan, Syam Basrijal menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam alih profesi bukan semata-mata persoalan modal finansial, tetapi kemampuan keluar dari pola pikir dan identitas lama.
Terlebih kata dia, lingkungan kerja seorang ajudan sejatinya telah membentuk kemampuan menjalankan sistem, menjaga stabilitas, merespons instruksi dengan cepat, serta meminimalkan kesalahan.
“Kompetensi tersebut merupakan kekuatan. Namun, ketika memasuki dunia kewirausahaan, diperlukan lapisan kemampuan baru: menciptakan peluang, membangun sistem, mengelola ketidakpastian, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap risiko,” tutur Syam Basrijal.
Oleh sebab itu, alih profesi tidak perlu dimaknai sebagai meninggalkan mentalitas disiplin seorang ajudan, melainkan memperluasnya dengan mentalitas entrepreneur.
Syam merumuskan lima mentalitas yang perlu dikembangkan, yaitu ;
1. Growth Mindset,
2. Ownership,
3. Opportunity Thinking,
4. Value Creation, dan
5. Adaptive Learning.
“Kelimanya menjadi jembatan untuk mengubah pengalaman masa lalu menjadi kemampuan membaca peluang dan menciptakan manfaat baru,” terangnya.
Dengan paradigma tersebut, seseorang tidak lagi hanya bertanya, pekerjaan apa yang tersedia bagi saya setelah purna tugas. Akan tetapi mulai bertanya, nilai apa yang dapat saya ciptakan dari seluruh pengalaman, kompetensi, dan jaringan yang telah saya bangun.
Transformasi Harus Menyentuh Manusia Secara Utuh
Syam juga menekankan bahwa kesiapan memasuki dunia usaha tidak cukup dibangun hanya melalui pengetahuan bisnis. Transformasi perlu menyentuh manusia secara utuh.


