Ekosistem Energi–Pangan Terpadu Jadi Kunci Model Bisnis Masa Depan

1 Shares

JAKARTA, HOLOPIS.COM Konsep integrasi antara energi dan sektor pangan dinilai menjadi arah baru dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan di Indonesia. CEO PT Gema Aset Solusindo, Syam Basrijal, menegaskan bahwa pendekatan seperti agrovoltaic dan solar grazing tidak seharusnya dilihat sebagai inovasi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari sistem yang saling terhubung.

Menurut Syam, jika kedua konsep tersebut ditempatkan dalam satu kerangka sistemik, maka yang terbentuk bukan sekadar solusi teknis, tetapi sebuah arsitektur ekonomi baru berbasis integrasi ruang. Ia menyebut bahwa kebijakan energi nasional, termasuk target pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 GW, harus dipahami sebagai momentum untuk merancang ulang pengelolaan ruang dan produksi.

- Advertisement -

“Jika agrovoltaic dan solar grazing dibaca sebagai inovasi terpisah, maka kita hanya melihat sebagian kecil dari gambaran besar. Namun ketika keduanya ditempatkan dalam satu kerangka sistemik, yang muncul bukan sekadar solusi teknis, melainkan arsitektur ekonomi baru berbasis ruang terintegrasi,” kata Syam Basrijal dalam siaran persnya yang diterima Holopis.com, Selasa (28/4/2026).

Ia menjelaskan, target 100 GW PLTS berpotensi membutuhkan lahan hingga 1–1,5 juta hektare apabila menggunakan pendekatan konvensional berbasis ground-mounted. Angka tersebut dinilai akan beririsan langsung dengan lahan produktif, termasuk sektor pertanian yang saat ini telah dilindungi melalui kebijakan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) dan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) seluas sekitar 6,39 juta hektare.

- Advertisement -

Syam menilai, jika pembangunan tetap menggunakan pendekatan monofungsi, maka konflik pemanfaatan ruang tidak dapat dihindari. Namun, ia melihat peluang besar jika pendekatan diubah menjadi integrasi sistem.

Ia menuturkan bahwa kebutuhan lahan PLTS dapat dialihkan sebagian ke rooftop, floating solar, kawasan industri, dan lahan bekas (brownfield). Sementara itu, integrasi dengan sektor pertanian dapat dilakukan melalui agrovoltaic yang diperkuat dengan solar grazing, sehingga satu lahan mampu menghasilkan berbagai output sekaligus.

“Dengan pendekatan ini, satu hektare lahan tidak lagi dihitung sebagai satu fungsi, tetapi sebagai sistem produksi berlapis: energi, pangan, dan peternakan dalam satu kesatuan,” ujarnya.

Dalam perspektif bisnis, model ini disebut sebagai lompatan paradigma. Syam mengungkapkan bahwa pendekatan terintegrasi memungkinkan terciptanya lebih dari satu sumber pendapatan dalam satu lahan, berbeda dengan model konvensional yang hanya menghasilkan satu arus pendapatan.

Ia merujuk pada studi internasional yang menunjukkan bahwa agrivoltaics mampu meningkatkan efisiensi penggunaan lahan melalui land equivalent ratio di atas 1. Selain itu, penerapan solar grazing dinilai mampu menekan biaya operasional sekaligus menambah nilai ekonomi dari sektor peternakan.

“Jika ketiga lapisan ini disatukan, maka yang terbentuk bukan sekadar diversifikasi, tetapi sistem produksi dengan efisiensi dan ketahanan yang jauh lebih tinggi,” jelas Syam.

Dari sisi ekonomi, integrasi ini dinilai memiliki dampak signifikan. Dalam RUPTL 2025–2034, investasi pembangkit diproyeksikan mencapai lebih dari Rp2.100 triliun, dengan PLTS sebagai salah satu kontributor utama. Syam menilai, jika sebagian investasi tersebut diarahkan ke model terintegrasi, maka nilai ekonomi yang dihasilkan tidak hanya berasal dari listrik, tetapi juga dari sektor pangan dan peternakan.

Ia menambahkan bahwa dampak berganda (multiplier effect) dari model ini berpotensi langsung dirasakan oleh sektor pertanian, peternakan, hingga ekonomi desa.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
1 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru