HOLOPIS.COM, JAKARTA – Amerika Serikat dan Arab Saudi resmi menandatangani perjanjian kerja sama nuklir untuk tujuan damai yang disebut akan menjadi fondasi kemitraan strategis bernilai miliaran dolar dalam beberapa dekade mendatang.
Departemen Energi Amerika Serikat mengumumkan bahwa kesepakatan tersebut diteken pada Rabu (23/7) oleh Menteri Energi AS Chris Wright dan Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman, bersamaan dengan penandatanganan perjanjian pengamanan bilateral.
Dalam keterangannya, Departemen Energi AS menyebut kerja sama itu bertujuan memperkuat hubungan ekonomi kedua negara sekaligus mendukung upaya pencegahan proliferasi senjata nuklir.
Kesepakatan tersebut juga berpotensi membuka jalan bagi Arab Saudi untuk memiliki kemampuan memperkaya uranium guna mendukung program energi nuklir sipilnya.
Chris Wright mengatakan perjanjian itu mencerminkan komitmen Washington dan Riyadh dalam mempererat kerja sama komersial sekaligus menjaga stabilitas keamanan.
“Perjanjian ini mencerminkan komitmen bersama kedua negara untuk memperkuat hubungan dagang AS-Arab Saudi, menciptakan kemakmuran di dalam negeri, dan meningkatkan keamanan bagi sekutu kami di luar negeri,” ujar Wright, dikutip Holopis.com, Jum’at (24/7).
Ia menegaskan kerja sama tersebut tetap mengedepankan standar keselamatan nuklir dan pencegahan proliferasi yang tinggi dengan memanfaatkan teknologi serta ilmuwan nuklir terbaik.
Meski demikian, kesepakatan itu masih harus melalui proses peninjauan di Kongres Amerika Serikat. Para anggota Kongres memiliki waktu 90 hari masa sidang untuk mengajukan keberatan sebelum perjanjian tersebut resmi berlaku.
Sejumlah politikus Partai Demokrat menyampaikan kekhawatiran bahwa kerja sama tersebut justru dapat memicu perlombaan senjata baru di kawasan Timur Tengah.
Senator Edward Markey menilai kesepakatan itu berpotensi memperburuk situasi keamanan global.
“Kesepakatan ini akan membuat kita semua menjadi kurang aman dan berisiko memungkinkan Arab Saudi mengembangkan teknologi senjata nuklir sambil memulai perang dengan Iran dengan dalih mencegah bom nuklir Iran,” kata Markey.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa kerja sama tersebut tidak akan membuka jalan bagi penyebaran senjata nuklir.
Di sisi lain, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pernah menyatakan negaranya tidak ingin memiliki senjata nuklir. Namun, ia juga menegaskan Arab Saudi akan mempertimbangkan langkah serupa apabila Iran berhasil mengembangkan senjata nuklir.


