HOLOPIS.COM, JAKARTA – Isu tak sedap yang menerpa hubungan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka langsung ditepis tegas oleh Partai Gerindra. Partai berlambang kepala burung Garuda itu meminta publik tak perlu membesar-besarkan alias mendramatisir perubahan tata letak posisi duduk Gibran saat Sidang Kabinet Paripurna (SKP) di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Ketua DPP Gerindra Bambang Haryadi menjelaskan, penataan tempat duduk tersebut murni untuk kebutuhan teknis di lapangan. Ia memastikan hubungan kerja antara presiden dan wakil presiden sejauh ini tetap solid dan harmonis.
“Pak Presiden Prabowo dan Mas Wapres Gibran saling melengkapi dalam bekerja. Keduanya selalu kompak,” kata Bambang, Rabu (22/7/2026).
Bambang menambahkan, Prabowo selalu memberi ruang gerak yang luas bagi Gibran dalam mengawal jalannya roda pemerintahan. Salah satunya lewat aksi blusukan Gibran ke berbagai daerah demi mengecek langsung efektivitas program pemerintah.
“Mas Gibran berkeliling ke daerah-daerah untuk mengecek program pemerintah telah berjalan sesuai atau masih perlu perbaikan dan menyerap aspirasi masyarakat, mewakili Presiden. Itu bentuk kekompakan yang nyata antara Pak Presiden dengan Mas Wapres,” kata dia.
Atas dasar itu, Sekretaris Fraksi Gerindra DPR ini meminta masyarakat tidak gampang terprovokasi oleh narasi spekulatif yang sengaja dihembuskan pihak tertentu untuk memecah belah.
“Jadi jangan didramatisir. Presiden dan wakil presiden bekerja saling melengkapi. Ada pihak yang ingin memecah kekompakan keduanya, dengan menframing narasi provokatif. Tapi kami yakin masyarakat tidak akan terpengaruh,” ujar Sekretaris Fraksi Gerindra DPR itu.
Mensesneg Ungkap Alasan Kebutuhan Teleprompter
Momen yang memicu kehebohan netizen ini berawal dari penampakan meja rapat saat SKP semester pertama 2026.
Berbeda dari sidang kabinet sebelumnya di mana posisi Gibran duduk berdampingan sejajar, kali ini meja Prabowo ditaruh terpisah di bagian tengah menghadap seluruh jajaran kabinet yang duduk berformasi huruf U, sementara Gibran berada di barisan menteri.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi meluruskan bahwa Presiden Prabowo membutuhkan bantuan alat pembaca teks (teleprompter) karena banyaknya poin evaluasi serta data rinci yang harus dipaparkan secara langsung.
“Nah, di situ karena beliau ingin menjelaskan banyak sekali program, maka kemarin kalau Saudara-saudara perhatikan karena banyaknya program itu juga harus diikuti atau didukung dengan data-data, maka kemarin beliau kan menggunakan alat bantu namanya teleprompter,” imbuh dia.
Penggunaan layar bantu visual inilah yang akhirnya mengubah layout atau tata letak ruang sidang utama.
“Nah, itulah yang kemudian menjawab pertanyaan yang secara layout, kalau Saudara-saudara kemarin perhatikan adalah Bapak Presiden berada di tengah-tengah. Dan kalau yang dipertanyakan adalah posisi dari Bapak Wakil Presiden, kalau menurut kami ini hanya masalah kebutuhan teknis semata, tidak ada hal-hal lain yang mungkin perlu dikhawatirkan,” katanya.


