JAKARTA, HOLOPIS.COM – Belum genap sepekan sejak peluncuran biodiesel B50, Presiden Prabowo Subianto langsung mengarahkan langkah berikutnya.
Belum genap sepekan sejak peluncuran mandatori biodiesel B50, Presiden Prabowo Subianto sudah mengarahkan pemerintah untuk mulai menyiapkan langkah menuju penggunaan biodiesel B60.
Arahan tersebut langsung ditindaklanjuti Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan membuka peluang pengembangan campuran biodiesel 60 persen, meski implementasinya masih menunggu hasil kajian teknis dan keekonomian.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pemerintah telah meminta para peneliti mulai mengkaji formulasi yang paling tepat apabila Indonesia nantinya beralih ke B60.
“Kami mintakan para periset untuk memprediksi kalau nanti menuju 60 persen seperti apa formulanya. Dulu saat menuju B50 juga prosesnya melalui tahapan seperti ini,” kata Eniya, Rabu (15/7/2026).
Meski demikian, Eniya menegaskan pemerintah tidak akan terburu-buru menerapkan B60.
Fokus utama saat ini adalah memastikan implementasi mandatori B50 berjalan optimal di lapangan.
Selain aspek teknis, pemerintah juga masih mempertimbangkan faktor biaya produksi.
Menurutnya, penggunaan campuran biodiesel di atas 50 persen membutuhkan komponen tambahan berbasis hidrokarbon yang saat ini masih memiliki harga sekitar 1,5 kali lebih mahal dibanding Fatty Acid Methyl Ester (FAME), bahan baku utama biodiesel berbasis minyak sawit.
“Kami harus melakukan riset terlebih dahulu karena kalau di atas 50 persen, kombinasi bahan tambahannya masih memiliki biaya yang lebih tinggi,” ujarnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meresmikan implementasi mandatori B50 di Karawang, Jawa Barat, pada 9 Juli 2026.
Program tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan kewajiban penggunaan biodiesel dengan kandungan minyak nabati mencapai 50 persen.
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut keberhasilan B50 bukan sekadar capaian teknologi, tetapi menjadi simbol kemampuan Indonesia memanfaatkan sumber daya alam untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50. Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, tetapi bukti Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alam sendiri untuk kepentingan rakyat sendiri,” kata Prabowo.
Namun, Presiden meminta agar keberhasilan tersebut tidak membuat inovasi berhenti.
Ia secara terbuka mendorong Pertamina dan seluruh pihak terkait untuk melanjutkan pengembangan hingga B60.
“Teruskan kajian ini. Jangan berhenti di B50, kalau bisa B60,” tegas Prabowo.
Mandatori B50 merupakan salah satu strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, meningkatkan pemanfaatan minyak sawit dalam negeri, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Program ini juga diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi sektor perkebunan sawit dan industri bioenergi domestik.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo bahkan menyatakan akan memberikan tanda kehormatan kepada para pihak yang dinilai berjasa dalam keberhasilan implementasi B50, termasuk jajaran Kementerian ESDM, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan PT Pertamina.
Meski peluang menuju B60 sudah mulai dibuka, pemerintah memastikan seluruh proses akan didasarkan pada hasil riset dan evaluasi menyeluruh.
Dengan demikian, transisi menuju campuran biodiesel yang lebih tinggi tetap mempertimbangkan aspek teknologi, kesiapan industri, serta efisiensi biaya agar implementasinya dapat berjalan secara berkelanjutan.


