HOLOPIS.COM, JAKARTA – Harga Pertamax melonjak menjadi Rp16.250 per liter. SBY pun mengirim peringatan kepada Presiden Prabowo agar melindungi rakyat dari dampak ekonomi.
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pesan khusus kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang kini mencapai Rp16.250 per liter.
Mantan kepala negara tersebut mengingatkan pentingnya melindungi masyarakat yang berpotensi paling merasakan dampak tekanan ekonomi akibat kenaikan harga energi.
Pesan tersebut disampaikan SBY melalui akun media sosial X miliknya pada Kamis, 11 Juni 2026.
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu menilai perhatian terhadap kelompok masyarakat rentan harus menjadi prioritas di tengah situasi ekonomi yang menghadapi berbagai tantangan.
“Yang tidak kalah pentingnya, melindungi rakyat kita yang sangat terdampak dengan situasi ekonomi, termasuk dampak dari kenaikan harga BBM,” tulis SBY.
Pernyataan itu muncul setelah PT Pertamina Patra Niaga mengumumkan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang mulai berlaku pada Rabu, 10 Juni 2026. Harga Pertamax (RON 92) melonjak dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.
Sementara Pertamax Green 95 (RON 95) turut naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Kenaikan tersebut langsung menjadi perhatian publik karena terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian.
Dalam pesannya, SBY tidak hanya menyoroti pentingnya perlindungan sosial bagi masyarakat.
Presiden RI periode 2004-2014 itu juga meminta pemerintah terus memperkuat fondasi ekonomi nasional agar tetap mampu menghadapi berbagai tekanan yang berasal dari luar maupun dalam negeri.
Menurut SBY, pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus dilakukan secara hati-hati.
Pemerintah juga diminta menjaga rasio utang agar tetap berada pada tingkat yang aman sehingga tidak membebani perekonomian nasional di masa mendatang.
Selain itu, ia mengingatkan agar pemerintah mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga barang dan jasa yang dapat memicu penurunan daya beli masyarakat.
Menurut dia, inflasi yang tidak terkendali dapat memperberat kehidupan masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.
SBY juga menyinggung pentingnya menjaga kepercayaan dunia usaha dan investor terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Ia menilai komunikasi yang jelas dari pemerintah akan membantu mengurangi spekulasi serta ketidakpastian yang dapat memengaruhi iklim investasi.
“Sehingga kebijakan dan langkah pemerintah dimengerti oleh rakyat dan market. Menghentikan berbagai spekulasi dan ketidakpastian,” tulisnya.
Menurut SBY, tantangan ekonomi yang dihadapi pemerintah saat ini bukan persoalan yang mudah.
Berdasarkan pengalamannya memimpin Indonesia selama dua periode, ia memahami bahwa kebijakan ekonomi membutuhkan waktu untuk menghasilkan dampak yang nyata.
Karena itu, ia menilai dukungan publik menjadi faktor penting bagi keberhasilan berbagai program pemerintah.
“Perlu dukungan publik yang lebih kuat. Ingat, in crucial thing, unity. In important thing, dialogue dan diwadahinya keragaman pandangan yang konstruktif. Pikiran yang rasional, kebijakan yang tepat dan aksi-aksi nyata yang serius menjadi sangat penting,” ujarnya.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya telah menjelaskan alasan di balik lonjakan harga Pertamax.
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan kenaikan tersebut dipengaruhi gejolak geopolitik global yang menyebabkan harga minyak dunia bergerak sangat fluktuatif.
Menurut dia, harga BBM nonsubsidi memang mengikuti mekanisme pasar sesuai formula yang telah ditetapkan pemerintah.
Beberapa komponen yang memengaruhi harga keekonomian BBM antara lain harga produk BBM di pasar internasional, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta biaya distribusi dan perpajakan.
“Penyesuaian harga BBM nonsubsidi cepat atau lambat tidak terhindarkan,” kata Dwi Anggia.
Meski demikian, pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak mengalami perubahan.
Harga Pertalite dan Solar subsidi tetap dipertahankan sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto guna menjaga daya beli masyarakat kecil dan kelompok rentan.
Di tengah polemik kenaikan harga Pertamax, pemerintah juga disebut tengah menyiapkan berbagai stimulus ekonomi untuk meredam dampak yang ditimbulkan.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus mengurangi beban masyarakat akibat meningkatnya harga energi.


