JAKARTA, Holopis.com – Setelah enam tahun berturut-turut mencetak surplus, neraca dagang Indonesia akhirnya kembali defisit hingga Rp26 triliun. Apa penyebab utamanya?
Neraca perdagangan Indonesia akhirnya kembali mencatatkan defisit setelah enam tahun bertahan di zona surplus.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar atau sekitar Rp26 triliun dengan asumsi kurs Rp16.200 per dolar Amerika Serikat.
Catatan tersebut menjadi defisit pertama sejak April 2020 sekaligus mengakhiri tren surplus neraca perdagangan Indonesia yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Tidak hanya itu, defisit Mei 2026 juga menjadi yang terdalam dalam lebih dari tujuh tahun terakhir, tepatnya sejak April 2019 ketika neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$2,33 miliar.
Defisit terjadi karena nilai impor Indonesia pada Mei 2026 melampaui nilai ekspor. BPS mencatat nilai ekspor mencapai US$23,20 miliar, sedangkan impor menembus US$24,81 miliar.
Selisih kedua angka tersebut membuat neraca perdagangan kembali masuk ke zona merah setelah bertahun-tahun menjadi salah satu penopang ketahanan ekonomi nasional.
Tekanan terbesar datang dari lonjakan impor, terutama impor minyak dan produk turunannya.
Secara tahunan, impor Indonesia meningkat 22,16% dibandingkan Mei 2025.
Meskipun secara bulanan turun tipis sekitar 1,59% dibandingkan April 2026, nilainya masih jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan impor paling mencolok berasal dari sektor migas.
BPS mencatat impor migas melonjak 70,78% secara tahunan menjadi US$4,51 miliar.
Di dalam kelompok tersebut, impor hasil minyak hampir dua kali lipat atau meningkat 99,49% menjadi US$3,81 miliar.
Lonjakan impor energi ini tidak terlepas dari kenaikan harga minyak dunia yang sempat dipicu memanasnya konflik di Timur Tengah.
Harga minyak yang lebih tinggi membuat biaya pembelian BBM dari luar negeri ikut meningkat sehingga nilai impor Indonesia terdongkrak tajam.
Selain impor migas, kenaikan juga terjadi pada berbagai kelompok barang lainnya. Impor bahan baku dan barang penolong naik 25,17% secara tahunan menjadi US$17,58 miliar.
Sementara impor barang konsumsi meningkat 21,99% menjadi US$2,23 miliar, sedangkan impor barang modal tumbuh 12,70% menjadi sekitar US$5 miliar.
Peningkatan impor bahan baku menunjukkan aktivitas industri dalam negeri masih cukup tinggi.
Namun, di sisi lain, tingginya ketergantungan terhadap impor energi membuat neraca perdagangan menjadi rentan mengalami defisit ketika kinerja ekspor melemah.
Masalahnya, pada saat impor meningkat tajam, ekspor Indonesia justru mengalami penurunan.
Nilai ekspor pada Mei 2026 tercatat US$23,20 miliar, turun 8,30% dibandingkan April 2026. Secara tahunan, ekspor juga menyusut 5,73% dibandingkan Mei tahun lalu.
Penurunan juga terjadi pada ekspor nonmigas.
Nilainya tercatat US$22,45 miliar, turun 7,05% dibandingkan bulan sebelumnya dan melemah 4,50% dibandingkan Mei 2025.
Salah satu penyebab utama pelemahan ekspor berasal dari komoditas sawit.
Kelompok lemak dan minyak hewani maupun nabati atau HS 15 yang didominasi crude palm oil (CPO) dan produk turunannya merupakan penyumbang terbesar ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Mei 2026 dengan nilai mencapai US$14,06 miliar.
Namun, pada Mei 2026, ekspor kelompok tersebut mengalami penurunan yang cukup tajam.
Nilainya turun dari US$3,07 miliar pada April menjadi US$2,24 miliar pada Mei 2026. Secara bulanan, penurunannya mencapai 26,85%, sedangkan secara tahunan turun 14,23%.
Turunnya ekspor sawit juga tidak lepas dari meningkatnya kebutuhan dalam negeri.
Pemerintah mulai menerapkan kebijakan mandatori biodiesel B50 yang berlaku mulai 1 Juli 2026.
Melalui kebijakan tersebut, campuran biodiesel berbahan baku sawit dalam solar dinaikkan dari 40% menjadi 50%.
Program ini bertujuan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar sekaligus meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan.
Namun, di sisi lain, kebijakan tersebut membuat penyerapan CPO untuk kebutuhan domestik meningkat sehingga pasokan yang tersedia untuk ekspor menjadi lebih terbatas.
Selain sawit, komoditas besi dan baja juga mengalami pelemahan. Nilai ekspornya turun dari US$2,50 miliar pada April menjadi US$2,39 miliar pada Mei 2026 atau turun 4,54% secara bulanan.
Dibandingkan Mei 2025, ekspor besi dan baja bahkan turun 14,68%.
Padahal, komoditas besi dan baja merupakan penyumbang ekspor nonmigas terbesar ketiga Indonesia sepanjang Januari-Mei 2026 dengan nilai mencapai US$11,42 miliar atau sekitar 10,37% dari total ekspor nonmigas.
Sementara itu, ekspor kelompok bahan bakar mineral yang didominasi batu bara masih mencatat kenaikan secara bulanan.
Nilainya meningkat dari US$2,75 miliar pada April menjadi US$3,04 miliar pada Mei 2026 atau naik 10,49%.
Meski demikian, kenaikan tersebut belum mampu mengangkat kinerja ekspor batu bara secara keseluruhan.
Sepanjang Januari-Mei 2026, pertumbuhan ekspor batu bara hanya mencapai 0,23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perlambatan itu diduga berkaitan dengan penyesuaian target produksi batu bara nasional melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang lebih rendah dibandingkan realisasi produksi tahun sebelumnya.
Selain itu, kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) juga membuat sebagian produksi batu bara harus diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sebelum diekspor.
Dari sisi negara tujuan, penurunan ekspor terjadi hampir di seluruh pasar utama Indonesia.
Ekspor nonmigas ke Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar Indonesia turun dari US$6,26 miliar pada April menjadi US$5,78 miliar pada Mei 2026.
Ekspor ke Amerika Serikat juga melemah dari US$2,88 miliar menjadi US$2,56 miliar.
Sementara ekspor ke India turun cukup dalam dari US$1,64 miliar menjadi hanya US$1,29 miliar dalam periode yang sama.
Melemahnya permintaan dari negara-negara tujuan ekspor utama tersebut turut menambah tekanan terhadap kinerja perdagangan Indonesia.
Kombinasi lonjakan impor energi akibat tingginya harga minyak dunia, meningkatnya kebutuhan CPO untuk program biodiesel di dalam negeri, melambatnya ekspor batu bara, turunnya ekspor besi dan baja, serta melemahnya permintaan dari pasar utama seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan India akhirnya membuat neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan defisit.
Perkembangan ini menjadi sinyal bahwa ketahanan sektor eksternal Indonesia mulai menghadapi tantangan baru.
Ke depan, keseimbangan antara pengendalian impor, khususnya impor energi, serta upaya menjaga daya saing ekspor komoditas unggulan akan menjadi faktor penting agar neraca perdagangan dapat kembali mencatatkan surplus pada bulan-bulan berikutnya.

