HOLOPIS.COM, JAKARTA – Geger sentimen “Sell Indonesia” usai rupiah melemah dan IHSG anjlok, Menkeu Purbaya akhirnya angkat bicara soal kondisi ekonomi RI.
Sentimen “sell Indonesia” mendadak jadi sorotan panas di pasar keuangan global.
Tekanan terhadap rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bikin investor global ramai-ramai menarik napas panjang, bahkan sebagian mulai melepas aset Indonesia.
Di tengah situasi yang bikin pasar tegang itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya angkat suara.
Ia menilai narasi “sell Indonesia” yang ramai diberitakan media internasional tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan untuk membaca kondisi ekonomi nasional.
“Itu kan tren jual Indonesia saya baca di Bloomberg ya, tapi mungkin penulisnya belum sepenuhnya memahami kondisi Indonesia secara utuh,” kata Purbaya saat ditemui di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (6/6/2026).
Pernyataan itu muncul di tengah tekanan pasar yang cukup serius.
IHSG tercatat melemah tajam hingga puluhan persen sepanjang 2026, menjadikannya salah satu kinerja terburuk di antara indeks global.
Sementara itu, rupiah juga tertekan lebih dari 7% terhadap dolar Amerika Serikat.
Tak berhenti di situ, arus modal asing disebut ikut keluar dalam jumlah besar dari pasar obligasi Indonesia.
Kondisi ini membuat kekhawatiran investor global meningkat, hingga memunculkan istilah “sell Indonesia” di sejumlah laporan analis internasional.
Namun, Purbaya mencoba meredam kepanikan tersebut.
Ia menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang relatif kuat.
Pemerintah, kata dia, terus menjaga stabilitas fiskal dan memastikan kebijakan ekonomi tetap berada di jalur yang sehat.
Untuk memperkuat keyakinan pasar, Kementerian Keuangan bahkan mempercepat publikasi laporan APBN KiTA.
Langkah ini diambil agar investor bisa melihat langsung kondisi fiskal Indonesia yang dinilai masih terjaga.
“Makanya saya percepat APBN KiTA, supaya pasar bisa lihat sendiri bahwa fiskal kita baik, ekonomi kita cukup kuat. Jadi sentimen negatif ini lama-lama bisa mereda,” ujar Purbaya.
Ia juga mengimbau investor agar tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen jangka pendek.
Menurutnya, data ekonomi Indonesia perlu dilihat secara lebih komprehensif sebelum menarik kesimpulan.
“Teman-teman investor tolong lihat lebih detail kondisi kita. Fiskal bagus, ekonomi juga masih solid,” tegasnya.
Di sisi lain, media internasional seperti Bloomberg menyoroti penurunan tajam IHSG yang disebut mencapai sekitar 36% sepanjang tahun berjalan 2026.
Angka tersebut membuat Indonesia tercatat sebagai salah satu pasar saham dengan kinerja terburuk secara global tahun ini.
Selain tekanan di pasar saham, pelemahan rupiah juga menjadi sorotan.
Mata uang Garuda itu melemah lebih dari 7%, diiringi keluarnya dana asing miliaran dolar AS dari pasar obligasi domestik.
Kombinasi ini menambah tekanan pada pasar keuangan nasional.
Sejumlah analis global bahkan menyebut perdagangan paling populer di kawasan Asia saat ini adalah “jual Indonesia”, menggambarkan meningkatnya sikap hati-hati investor terhadap aset-aset domestik.
Meski begitu, pemerintah tetap optimistis. Purbaya menegaskan bahwa struktur ekonomi Indonesia masih ditopang oleh fondasi yang kuat, termasuk stabilitas fiskal dan arah kebijakan pembangunan yang dianggap masih konsisten.
Ia juga menyinggung peran kepemimpinan nasional yang disebutnya tetap fokus menjaga stabilitas di tengah gejolak global.
“Yang jelas fiskal kita bagus, ekonomi masih kuat, dan arah pembangunan tetap berjalan,” ujarnya.
Kini, sorotan pasar tertuju pada langkah lanjutan pemerintah dalam meredam volatilitas.
Di tengah tekanan global dan derasnya arus sentimen negatif, pernyataan Purbaya menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak tinggal diam menghadapi gejolak yang mengguncang pasar keuangan Indonesia.

