HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah Indonesia menargetkan perjanjian dagang Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dapat diratifikasi pada semester II 2026. Sebab jika target tersebut tercapai, mayoritas produk ekspor Indonesia akan memperoleh akses lebih luas ke pasar Uni Eropa dengan fasilitas tarif nol persen mulai awal 2027.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penyelesaian IEU-CEPA menjadi langkah strategis untuk memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dengan kawasan Uni Eropa sekaligus meningkatkan perdagangan dan investasi.
“Kami menargetkan proses ratifikasi IEU-CEPA dapat diselesaikan pada semester II 2026 sehingga implementasinya dapat dimulai pada awal 2027,” ujar Airlangga dalam keterangan tertulisnya, dikutip Holopis.com dari laman resmi Kemenko Perekonomian, Sabtu (6/6/2026).
Target tersebut dibahas langsung Airlangga saat bertemu dengan Komisioner Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic. Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat mempercepat proses ratifikasi agar berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Penyelesaian IEU-CEPA dinilai menjadi momentum penting bagi pelaku usaha nasional. Pasalnya, salah satu manfaat terbesar dari kesepakatan tersebut adalah penghapusan tarif perdagangan pada sekitar 98 persen pos tarif.
Dengan skema tersebut, produk-produk ekspor Indonesia akan memperoleh akses pasar yang lebih kompetitif di kawasan Uni Eropa. Fasilitas tarif nol persen juga diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Selain membahas perdagangan, Airlangga dan Sefcovic juga mendiskusikan peluang investasi yang dapat dikembangkan melalui program Global Gateway Uni Eropa. Program tersebut diarahkan untuk mendukung berbagai proyek strategis, termasuk investasi pada sektor mineral kritis.
Menurut Airlangga, kerja sama di sektor tersebut memiliki prospek besar karena Indonesia saat ini tengah mendorong hilirisasi sumber daya alam guna meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.
Di sisi lain, Uni Eropa juga membutuhkan pasokan mineral strategis untuk mendukung agenda transisi energi serta pengembangan industri teknologi hijau yang menjadi prioritas kawasan tersebut.
“Kami juga membahas peluang kerja sama investasi melalui berbagai program strategis, termasuk pengembangan sektor mineral kritis yang menjadi perhatian kedua pihak,” pungkas Airlangga.
Pembahasan IEU-CEPA juga menjadi bagian dari persiapan menjelang kunjungan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Komisioner Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic ke Jakarta.
Pemerintah berharap seluruh proses dapat berjalan lancar sehingga manfaat ekonomi dari perjanjian tersebut segera dirasakan oleh pelaku usaha Indonesia maupun Uni Eropa.


