Rupiah Jebol Rp18.025 per Dolar AS! Cek Daftar Barang yang Berpotensi Makin Mahal

8 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTARupiah menembus Rp18.025 per dolar AS, level terlemah sepanjang sejarah. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga berbagai barang impor dan kebutuhan sehari-hari.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan setelah menembus level Rp18.025 per dolar AS pada Jumat (5/6/2026).

Pelemahan ini memperpanjang tekanan terhadap mata uang Garuda yang sehari sebelumnya sempat menyentuh level Rp18.029 per dolar AS.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga sejumlah barang di dalam negeri.

Pasalnya, banyak sektor usaha di Indonesia masih bergantung pada bahan baku maupun produk impor yang transaksinya menggunakan dolar AS.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor menjadi lebih mahal.

- Advertisement -

Dampaknya dapat dirasakan mulai dari pelaku industri hingga konsumen akhir melalui kenaikan harga barang dan jasa.

Salah satu sektor yang berpotensi terdampak adalah energi.

Minyak mentah dunia diperdagangkan dalam mata uang dolar AS, sehingga pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor energi dan menambah tekanan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM), gas, hingga biaya distribusi.

Selain itu, produk elektronik seperti laptop, televisi, monitor, dan berbagai perangkat rumah tangga juga berisiko mengalami kenaikan harga.

Sebab, sebagian besar komponen elektronik masih berasal dari luar negeri.

Sektor kesehatan juga tidak luput dari dampak pelemahan rupiah.

Industri farmasi nasional masih mengandalkan bahan baku impor, sehingga harga obat-obatan, vitamin, dan alat kesehatan berpotensi ikut terkerek naik apabila kurs rupiah terus melemah.

Kenaikan harga juga berpotensi terjadi pada produk makanan dan minuman impor.

Komoditas seperti gandum, susu, cokelat, buah-buahan, hingga daging impor diperkirakan menghadapi kenaikan biaya masuk akibat kurs dolar yang lebih tinggi.

Di sektor industri, berbagai bahan baku seperti plastik, logam, bahan kimia, serta mesin produksi yang masih diimpor juga berpotensi mengalami kenaikan biaya.

Kondisi ini dapat mendorong produsen menyesuaikan harga jual produk mereka.

Produk fesyen impor seperti pakaian, tas, sepatu, dan aksesori dari merek luar negeri juga diprediksi menjadi lebih mahal karena umumnya dipatok menggunakan dolar AS.

Sementara itu, pemilik kendaraan juga perlu mewaspadai potensi kenaikan harga suku cadang dan aksesori kendaraan.

Sebagian besar komponen otomotif masih bergantung pada impor sehingga sensitif terhadap pergerakan nilai tukar.

Apabila pelemahan rupiah berlanjut dalam jangka panjang, tekanan terhadap harga berbagai barang impor dan produk yang menggunakan bahan baku luar negeri diperkirakan akan semakin besar.

Kondisi ini berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat serta biaya produksi di berbagai sektor ekonomi.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Ronalds Petrus Gerson
Gesha Yuliani Nattasya, Ronalds Petrus Gerson
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU