JAKARTA, Holopis.com – Nilai tukar rupiah kembali terpuruk hingga menyentuh Rp17.900 per dolar AS dan memicu kekhawatiran baru di pasar keuangan nasional.
Nilai tukar rupiah kembali terpuruk dan nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan Kamis (28/5/2026), rupiah bahkan sempat berada di posisi Rp17.906 per dolar AS di pasar non-deliverable forward (NDF).
Pelemahan ini membuat rupiah mencatatkan posisi terlemah sepanjang sejarah dan memperpanjang tren depresiasi mata uang Garuda sejak awal tahun 2026.
Sejumlah faktor global dan domestik disebut menjadi penyebab utama ambruknya rupiah.
Mulai dari penguatan dolar AS, tingginya suku bunga Amerika Serikat, hingga meningkatnya kebutuhan dolar di dalam negeri.
Guru Besar Ilmu Ekonomi Moneter dan Perbankan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengatakan tekanan terbesar datang dari kondisi ekonomi global yang belum stabil.
Menurutnya, pasar masih meyakini bank sentral AS atau The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer.
“Kondisi ini membuat investor global memilih aset berbasis dolar AS karena dianggap lebih aman,” ujar Rahma, Jumat (29/5/2026).
Ia menjelaskan, penguatan indeks dolar AS (DXY) ke level 99,1 menjadi sinyal kuat bahwa dolar masih menjadi instrumen utama pilihan investor dunia.
Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga membuat investasi di negara berkembang seperti Indonesia menjadi kurang menarik.
“Pelemahan rupiah saat ini bukan sekadar fluktuasi biasa, tetapi mencerminkan tekanan global yang cukup berat ditambah tantangan ekonomi domestik,” katanya.
Di dalam negeri, kebutuhan dolar AS juga meningkat tajam.
Permintaan devisa untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen perusahaan disebut sedang tinggi pada kuartal II-2026.
Tak cuma itu, impor energi ikut membengkak seiring naiknya harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut membuat permintaan dolar di pasar domestik melonjak sehingga semakin menekan rupiah.
Tekanan juga datang dari pasar keuangan nasional.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergerak melemah dan sempat berada di bawah level 7.000.
Pelaku pasar mulai khawatir terhadap risiko pelebaran defisit anggaran dan sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap membebani dunia usaha.
Bank Indonesia sebenarnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026.
Namun langkah itu dinilai belum cukup kuat untuk menahan tekanan terhadap rupiah.
Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, bahkan menilai respons Bank Indonesia terlambat karena pasar lebih dulu bereaksi terhadap tekanan global.
“Pasar sudah bergerak lebih cepat dibandingkan kebijakan moneter domestik,” ujar Yanuar.
Ia juga menyoroti meningkatnya simpanan valuta asing masyarakat di perbankan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dana pihak ketiga dalam bentuk valas tumbuh 9,9 persen secara tahunan menjadi Rp1.611 triliun pada Maret 2026.
Sementara tabungan valas tumbuh lebih tinggi hingga mencapai 20,34 persen secara tahunan.
Menurut Yanuar, kondisi ini menunjukkan masyarakat mulai berhati-hati dan cenderung mengamankan asetnya dalam bentuk dolar AS.
Selain faktor eksternal, komunikasi kebijakan pemerintah juga ikut menjadi sorotan.
Pernyataan sejumlah pejabat yang terlalu optimistis dianggap tidak sesuai dengan kondisi pasar yang sedang bergejolak.
Di sisi lain, cadangan devisa Indonesia juga mengalami penurunan.
Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa akhir April 2026 sebesar 146,2 miliar dolar AS atau turun sekitar 10,3 miliar dolar AS dibanding akhir 2025.
Meski masih dalam kategori aman, penurunan tersebut tetap memicu perhatian pelaku pasar karena menunjukkan tingginya kebutuhan stabilisasi rupiah.
Rahma menilai Bank Indonesia perlu memperkuat intervensi pasar melalui instrumen domestic non-deliverable forward (DNDF), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), hingga Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) guna menarik kembali aliran modal asing.
Ekonom memprediksi tekanan terhadap rupiah kemungkinan mulai mereda pada Juli hingga Agustus 2026 ketika kebutuhan dolar korporasi menurun secara musiman.
Namun untuk jangka pendek, pasar masih menunggu arah kebijakan The Federal Reserve serta perkembangan tensi geopolitik global yang terus memengaruhi pergerakan dolar AS.
Jika tekanan global belum mereda, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dan rawan kembali melemah mendekati level Rp18.000 per dolar AS.


