Di Balik Euforia Piala Dunia 2026, Meksiko Dihantui 134 Ribu Orang Hilang

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Euforia Piala Dunia 2026 mulai terasa di Meksiko. Kota-kota tuan rumah seperti Guadalajara terus berbenah demi menyambut jutaan wisatawan yang diperkirakan datang pada turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.

Namun, di balik proyek renovasi jalan, penataan kawasan publik, hingga penguatan keamanan, ada luka besar yang belum sembuh di tengah masyarakat Meksiko. Krisis orang hilang akibat kekerasan kartel narkoba.

Raúl Servín, seorang pelayan restoran di Guadalajara, mengaku sulit ikut merasakan semangat Piala Dunia 2026. Sejak putranya menghilang pada 2018, hidup Servín berubah menjadi pencarian tanpa akhir.

Ia kini menghabiskan sebagian besar waktunya bersama kelompok keluarga korban untuk mencari keberadaan orang-orang tercinta mereka yang hilang tanpa jejak.

Menurut data resmi yang dikutip media internasional, lebih dari 134 ribu orang dilaporkan hilang di Meksiko dalam beberapa tahun terakhir. Negara bagian Jalisco, lokasi Guadalajara berada, menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi di negara itu.

Di saat keluarga korban terus mencari jawaban, pemerintah daerah justru tengah sibuk mempercantik kota demi citra Piala Dunia 2026.

- Advertisement -

Servín menyoroti berbagai proyek yang digencarkan pemerintah, mulai dari renovasi alun-alun kota, pembelian drone polisi, kendaraan patroli mahal. Selain itu, kebijakan meliburkan sekolah pada hari pertandingan untuk mengurangi kemacetan.

“Ini masalah prioritas,” kata Servín dikutip pada Jumat, (29/5/2026).

Dia menyindir pemerintah yang sibuk mempercantik kota jelang Piala Dunia 2026.

“Mereka memperbaiki semuanya agar terlihat cantik bagi orang asing. Sementara kami mencari orang-orang terkasih kami di bawah terik matahari,” tutur Servin.

Kelompok pencari korban yang dipimpin Servín mengaku menemukan sejumlah kuburan rahasia. Pun, lokasi itu diduga menjadi ‘kamp pemusnahan’ dalam radius sekitar 20 kilometer dari stadion Piala Dunia di Guadalajara.

Temuan tersebut memperlihatkan kontras tajam antara pesta sepak bola dunia dan situasi keamanan yang masih memburuk di sejumlah wilayah Meksiko.

“Gubernur hanya peduli pada keuntungan ekonomi dari Piala Dunia, tetapi kami sedang mengalami sesuatu yang lain,” ujar Servín.

Dia menyindir para politisi yang tak akan pernah peduli pada orang hilang atau keluarga korban. “Karena mereka tidak merasakan penderitaan ini. Mereka tidak dapat memahaminya,” jelasnya.

Pemerintah negara bagian Jalisco belum memberikan tanggapan atas kritik tersebut. Sementara, pemerintah federal Meksiko mengklaim pencarian orang hilang sebagai ‘prioritas nasional’.

Ketegangan antara keluarga korban dan pemerintah diperkirakan akan terus meningkat menjelang Piala Dunia 2026 yang digelar Meksiko, bersama Amerika Serikat (AS), dan Kanada.

Turnamen yang dimulai pada 11 Juni itu diproyeksikan menjadi momentum besar bagi sektor pariwisata Meksiko. Presiden Claudia Sheinbaum bahkan menyebut ajang tersebut sebagai kesempatan Meksiko untuk menunjukkan kepada dunia.

Namun, bagi banyak keluarga korban penghilangan paksa, Piala Dunia justru akan dimanfaatkan sebagai panggung internasional untuk menyoroti krisis keamanan yang selama ini dinilai diabaikan pemerintah.

Data resmi menunjukkan jumlah laporan orang hilang di Meksiko meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak 2015. Kartel narkoba disebut semakin sering menculik anak muda untuk direkrut secara paksa, membunuh rival, lalu menyembunyikan jasad mereka. Sepanjang tahun lalu saja, hampir 12.400 orang dilaporkan hilang.

Direktur lembaga analisis keamanan Lantia Intelligence, Eduardo Guerrero, mengatakan skala kasus penghilangan di Meksiko telah mengejutkan banyak peneliti internasional.

“Saya belum pernah mendengar negara lain dengan fenomena seperti Meksiko dalam 20 tahun penelitian saya tentang topik ini,” kata Guerrero.

Dia merasa bingung karena di Meksiko terlihat ada kejahatan terorganisir yang tak tersembunyi tapi memiliki proporsi yang begitu memalukan.

Sejumlah kelompok masyarakat sipil mulai memanfaatkan atmosfer Piala Dunia untuk menyuarakan isu tersebut. Aktivis di Mexico City menempelkan poster orang hilang di papan reklame bertema Piala Dunia.

Sementara kelompok lain menyiapkan aksi pawai dan pertandingan sepak bola jalanan di kota-kota tuan rumah.

Kepala program keamanan lembaga think-tank México Evalúa, Armando Vargas, menilai ada pertarungan citra yang kini terjadi di Meksiko.

“Ada konflik narasi besar antara masyarakat sipil, yang ingin menyoroti situasi keamanan, dan pemerintah Meksiko, yang akan melakukan segala daya upaya untuk menunjukkan visi realitas yang berbeda,” kata Vargas.

Di tengah sorotan global menuju Piala Dunia 2026, keluarga korban berharap dunia tidak hanya melihat stadion megah dan pesta sepak bola. Namun, juga tragedi kemanusiaan yang masih berlangsung di Meksiko.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dani Yoga
Dani Yoga
Tim Redaksi :

SELURUH ISI KONTEN BUKAN TANGGUNG JAWAB REDAKSI HOLOPIS.COM

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU