HOLOPIS.COM, JAKARTA – Aktivis asal Irlandia, Catriona Graham, mengungkap pengalaman mencekam saat kapal Global Sumud Flotilla yang membawa relawan pro Palestina disergap pasukan Israel dalam misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza.
Menurut Graham, pasukan Israel menunjukkan tindakan agresif sejak awal operasi penyergapan terhadap kapal para relawan internasional tersebut.
“sangat siap untuk meningkatkan kekerasan di setiap Langkah,” kata Graham dikutip dari Aljazeera, Jumat, (22/5/2026).
Ia menyampaikan hal itu dalam wawancara dengan Aljazeera setelah tiba di Istanbul, Turki, usai dideportasi dari Israel.
Graham menjelaskan, pasukan Israel awalnya memberi pemberitahuan bahwa proses pencegatan akan dilakukan sebelum akhirnya naik ke kapal beberapa jam kemudian.
Namun, situasi disebut langsung berubah tegang saat aparat Israel mulai melakukan tindakan represif terhadap para relawan di atas kapal. “Mereka langsung masuk dengan peluru karet,” katanya.
Ia juga mengungkap adanya tindakan kekerasan terhadap salah satu aktivis yang berada di kapal. Menurutnya, aktivis tersebut diikat menggunakan kabel di bagian belakang tubuh dan ditutup matanya hingga hampir jatuh ke laut.
Graham membandingkan pengalaman tersebut dengan misi bantuan kemanusiaan ke Gaza yang pernah ia ikuti sebelumnya. Dalam operasi terdahulu, ia mengaku tidak mengalami kekerasan fisik secara langsung.
“Tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik yang nyata”. Dia menggambarkan serangan Israel ini jauh lebih agresif,” ujar Graham.
Meski mengalami penahanan dan deportasi, Graham memastikan semangat para relawan internasional untuk mendukung Palestina tidak akan surut.
Ia menegaskan intimidasi dan ancaman yang diterima justru membuat para aktivis semakin kuat untuk melanjutkan perjuangan kemanusiaan bagi warga Gaza.
Dia mengaku tak bakal gentar dengan ancaman Israel.
“Kami akan bertahan lebih kuat, kami akan terus berjuang,” kata Graham.



