Trump: Kuba Sudah Hancur Berantakan, AS Tak Perlu Tingkatkan Tekanan Lagi

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Kuba kembali memanas setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump melayangkan dakwaan pidana terhadap mantan Presiden Kuba Raul Castro. Dakwaan pidana itu terkait insiden penembakan jatuh pesawat pada 1996.

Meski demikian, Trump menyampaikan pemerintahannya belum melihat perlunya meningkatkan tekanan terhadap negara komunis tersebut. Sebab, kondisi Kuba dinilai sudah berada dalam situasi yang kacau.

“Tidak akan ada peningkatan. Saya rasa tidak perlu. Lihat, tempat itu sedang hancur. Ini berantakan, dan mereka seperti kehilangan kendali, mereka benar-benar kehilangan kendali atas Kuba,” kata Trump kepada wartawan di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland dikutip dari Anadolu, Kamis, (21/5/2026).

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya tekanan politik Washington terhadap Havana dalam beberapa bulan terakhir, termasuk ancaman sanksi tambahan dan isu operasi militer.

Lantas, saat ditanya apakah AS mempertimbangkan langkah militer seperti penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Trump tidak memberikan jawaban tegas. “Saya tidak ingin mengatakan itu,” ujarnya singkat.

Beberapa jam sebelum pernyataan Trump, Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS Todd Blanche mengumumkan Departemen Kehakiman AS resmi mengajukan dakwaan terhadap Raul Castro dan sejumlah pihak lainnya.

- Advertisement -

“Kami mengumumkan dakwaan yang menuntut Raul Castro dan beberapa orang lainnya atas konspirasi untuk membunuh warga negara AS,” kata Blanche dalam acara penghormatan terhadap empat korban tewas insiden 1996.

Ia menjelaskan, Castro juga didakwa atas sejumlah kejahatan lain, termasuk perusakan pesawat dan pembunuhan.

“Tuan Castro, dan yang lainnya juga didakwa dengan kejahatan tambahan, termasuk perusakan pesawat dan empat dakwaan pembunuhan individu,” katanya.

Dokumen pengadilan federal di Miami menunjukkan Raul Castro menghadapi satu dakwaan konspirasi membunuh warga negara AS, empat dakwaan pembunuhan, dan dua dakwaan perusakan pesawat. Dakwaan tersebut berkaitan dengan penembakan dua pesawat kelompok pengasingan “Brothers to the Rescue” pada 1996 yang menewaskan empat orang.

Pemerintah Kuba langsung merespons keras langkah Washington tersebut. Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel Bermudez menuding pemerintahan Trump memutarbalikkan fakta sejarah demi menyerang Havana secara politik.

Diaz Canel menuturkan pada 24 Februari 1996, Kuba bertindak dalam pembelaan diri yang sah di dalam perairan yurisdiksinya. Hal itu menyusul pelanggaran berulang dan berbahaya terhadap wilayah udara Kuba oleh teroris terkenal.

“Suatu fakta yang telah diperingatkan kepada pemerintahan AS pada saat itu lebih dari selusin kali. Namun mereka mengabaikan peringatan tersebut dan membiarkan pelanggaran itu berlanjut,” tulis Diaz-Canel di media sosial X.

Dia juga membela sosok Raul Castro yang dinilai memiliki jasa besar bagi Kuba.

“Kedudukan etis dan semangat humanistik dari warisannya menghancurkan segala fitnah yang mungkin diupayakan terhadap Jenderal Angkatan Darat Raúl Castro. Sebagai komandan gerilya dan sebagai negarawan, ia mendapatkan cinta dari rakyatnya,” lanjutnya.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dani Yoga
Dani Yoga
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU