JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pondok pesantren merupakan model pendidikan terbaik bagi tumbuh kembang anak didik modern yang tetap berakar pada nilai-nilai Islam dan pembentukan karakter.
Hal itu disampaikan Nasaruddin saat menghadiri acara “Gerakan Pesantren Anti Kekerasan Seksual” yang digagas Partai Kebangkitan Bangsa di Hotel Mercure Jakarta, Senin (18/5/2026).
Menurut Nasaruddin, pesantren memiliki sistem pendidikan yang lebih mendalam dibanding pendidikan Islam formal pada umumnya karena menitikberatkan pada penghayatan dan praktik kehidupan beragama secara utuh.
“Pondok pesantren itu harus lebih dalam daripada pendidikan Islam. Karena ini benar-benar takhassus. Kalau di pendidikan Islam itu mungkin ya ilmul yaqin, ainul yaqin, tapi kalau di pondok pesantren harus pada haqqul yaqin, penajaman,” ujarnya.
Ia menilai siapa pun yang ingin mendalami Islam secara komprehensif memang perlu berada dalam lingkungan pesantren.
“Sehingga siapapun yang ingin mendalami Islam yang sesungguhnya memang harus masuk di lingkungan pondok pesantren,” katanya.
Meski demikian, Nasaruddin mengakui saat ini terdapat tantangan berupa menurunnya minat masyarakat terhadap pesantren dalam beberapa tahun terakhir.
Di mana dalam statistik tercatat angka minat santri mengalami penurunan yang sangat signifikan. Dari tahun 2020-2021 jumlah santri di Indonesia sebanyak 4,37 juta orang. Kemudian tahun 2022-2023 mengalami penurunan menjadi 4,08 juta. Tren menurun juga terjadi di tahun 2023-2024 berjumlah 3,34 juta dan pada 2024-2025 di angka 3,22 juta.
Dan pada tren terkini yakni periode 2025 – 2026, jumlah santri hanya 1,38 juta saja. Tren penurunan inilah yang menjadi catatan penting bagi Kementerian Agama dalam menyikapi fenomena dunia pesantren dewasa ini.

“Statistik memang menunjukkan suatu hal yang sangat mencemaskan. Tahun 2024–2025 terjadi penurunan angka peminatan pondok pesantren,” ungkapnya.
Namun ia optimistis tren tersebut akan kembali meningkat karena masyarakat modern mulai melihat keunggulan sistem pendidikan berbasis asrama atau boarding.
“Saya optimis bahwa pondok pesantren itu kembali menaik,” tegas Menag.
Nasaruddin bahkan mengungkapkan hasil penelitian akademisi dari Inggris yang menyebut pesantren sebagai salah satu model pendidikan paling modern.
“Baru-baru ini ada seorang peneliti dari Inggris meneliti pondok pesantren. Apa kesimpulannya? Ternyata lembaga pendidikan yang paling modern itu adalah pondok pesantren. Padahal kita menganggap pondok pesantren kolot, tradisional,” ujarnya.
Ia menjelaskan konsep boarding school yang kini menjadi tren di Inggris dan Australia sejatinya mengadopsi pola pendidikan pesantren.
“Sekolah yang paling favorit sekarang ini adalah boarding school, jadi niru-niru pondok pesantren terutama di SLTA-nya,” kata Nasaruddin.
Menurutnya, masyarakat modern mulai kehilangan kepercayaan terhadap pendidikan yang hanya mengandalkan sekolah formal tanpa pembinaan karakter secara menyeluruh.
Ia mencontohkan banyak anak mengalami “split personality” karena perilaku yang diajarkan di sekolah berbeda dengan lingkungan sosial di luar sekolah.
“Kalau itu di-boarding-kan, maka apa yang dipelajari itu diamalkan. Bagaimana mengatur waktu, berpakaian, cara makan, bergaul, relasinya dengan guru dan seterusnya itu sangat terkontrol,” jelasnya.
Karena itu, Nasaruddin menilai pesantren justru menjadi jawaban bagi kebutuhan pendidikan modern yang tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pembentukan moral dan karakter generasi muda.


