JAKARTA, HOLOPIS.COM – Ekspor RI terdongkrak nikel dan sawit, neraca perdagangan surplus USD 5,55 miliar pada kuartal I 2026 di tengah tekanan global.
Kinerja perdagangan Indonesia kembali menunjukkan taringnya di tengah tekanan global.
Sepanjang kuartal I 2026, neraca perdagangan RI mencatat surplus signifikan sebesar USD 5,55 miliar, ditopang kuat oleh ekspor komoditas unggulan seperti nikel, sawit, hingga produk industri pengolahan.
Capaian ini sekaligus memperpanjang tren positif neraca perdagangan Indonesia menjadi 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Data ini menegaskan ketahanan sektor eksternal Indonesia yang tetap solid di tengah dinamika ekonomi dunia.
Menteri Perdagangan Budi Santoso atau yang akrab disapa Mendag Busan menyebut, surplus ini didorong dominasi sektor nonmigas yang mencatatkan kelebihan neraca sebesar USD 10,63 miliar, meskipun sektor migas masih mengalami defisit USD 5,08 miliar.
“Surplus yang terus berlanjut pada periode Maret 2026 ini menunjukkan fundamental perdagangan Indonesia tetap kuat. Ekspor nonmigas menopang kinerja perdagangan, khususnya dari sektor industri pengolahan yang semakin berdaya saing di pasar global,” ujar Mendag.
Salah satu kunci utama lonjakan ekspor Indonesia adalah sektor industri pengolahan.
Sepanjang Januari–Maret 2026, sektor ini mendominasi struktur ekspor nasional dengan kontribusi mencapai 82,25 persen.
Nilai ekspor industri pengolahan tercatat sebesar USD 54,98 miliar, tumbuh 3,96 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan ini menjadi sinyal kuat bahwa hilirisasi mulai menunjukkan hasil nyata.
Komoditas berbasis logam menjadi bintang utama.
Ekspor nikel dan turunannya melonjak hingga 60,60 persen, diikuti timah 49,09 persen dan aluminium 40,97 persen.
Tak hanya itu, produk kimia organik dan anorganik juga mencatatkan pertumbuhan signifikan.
Sementara dari sisi komoditas utama penyumbang surplus, lemak dan minyak hewani atau nabati, termasuk sawit menjadi penyumbang terbesar dengan nilai USD 8,68 miliar.
Disusul bahan bakar mineral USD 6,22 miliar dan besi baja USD 4,29 miliar.
Dari sisi pasar, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia dengan nilai USD 5,06 miliar.
Disusul India sebesar USD 3,36 miliar dan Filipina USD 2,05 miliar.
Menariknya, ekspor ke sejumlah negara juga melonjak tajam secara kumulatif.
Spanyol mencatat kenaikan tertinggi hingga 38,86 persen, diikuti Mesir 25,43 persen dan Tiongkok 17,49 persen.
Hal ini menunjukkan diversifikasi pasar ekspor Indonesia semakin meluas.
Secara bulanan, ekspor Indonesia pada Maret 2026 mencapai USD 22,53 miliar, naik 1,62 persen dibandingkan Februari.
Lonjakan ini didorong peningkatan ekspor migas sebesar 18,60 persen, sementara nonmigas tumbuh tipis.
Beberapa komoditas bahkan mencatat lonjakan ekstrem, seperti bijih logam dan abu yang meroket lebih dari 8.000 persen.
Aluminium dan logam mulia juga mengalami kenaikan signifikan, mencerminkan kuatnya permintaan global.
Di sisi lain, impor Indonesia justru mengalami penurunan pada Maret 2026.
Total impor tercatat USD 19,21 miliar, turun 8,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan ini terjadi di seluruh sektor penggunaan barang, terutama barang modal yang anjlok 15,75 persen.
Barang konsumsi dan bahan baku juga ikut terkoreksi.
Mendag Busan menjelaskan, penurunan impor dipengaruhi faktor musiman seperti libur panjang Idulfitri, serta tekanan geopolitik global dan melemahnya permintaan domestik.
Meski demikian, secara kumulatif Januari–Maret 2026, impor masih tumbuh 10,05 persen menjadi USD 61,30 miliar.
Kenaikan ini terutama didorong oleh impor nonmigas.
Di balik capaian positif ini, pemerintah tetap mewaspadai sejumlah tantangan.
Sektor pertanian misalnya, mengalami penurunan ekspor hingga 32,18 persen.
Komoditas kopi, teh, dan rempah menjadi yang paling terdampak dengan penurunan lebih dari 40 persen.
Namun, pemerintah optimistis tren positif akan terus berlanjut dengan strategi ekspansi pasar dan penguatan industri dalam negeri.
“Kami akan terus memperluas pasar dengan tetap menjaga stabilitas industri dalam negeri serta memastikan kebijakan yang adaptif terhadap dinamika global,” tegas Mendag.
Dengan performa ekspor yang terus membaik, terutama dari sektor hilirisasi seperti nikel dan sawit, Indonesia dinilai berada di jalur yang tepat untuk memperkuat posisinya di pasar global.
Surplus neraca perdagangan yang konsisten ini tak hanya menjadi indikator kesehatan ekonomi, tetapi juga sinyal kuat bahwa transformasi industri Indonesia mulai membuahkan hasil nyata.


