HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menyatakan bahwa operasi militer AS terhadap Iran yang dimulai bersama Israel pada 28 Februari kini telah selesai. Pernyataan itu disampaikan Rubio dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Selasa (5/5). Ia menyebut operasi bernama “Epic Fury” telah resmi berakhir setelah pemerintah melaporkan perkembangannya kepada Kongres.
“Operasi ini telah berakhir, Epic Fury, seperti yang telah diinformasikan presiden kepada Kongres. Kami sudah selesai dengan tahap tersebut,” ujar Rubio, dikutip Holopis.com, Rabu (6/5).
Ia mengatakan fokus AS kini beralih ke operasi baru bernama “Project Freedom”, yang diluncurkan Pentagon untuk mengawal kapal-kapal komersial yang masih tertahan di kawasan Selat Hormuz.
Menurut Rubio, prioritas Washington saat ini adalah memastikan jalur distribusi energi global kembali berjalan normal.
Pengumuman tersebut dinilai berkaitan dengan War Powers Resolution, aturan yang mewajibkan presiden AS meminta persetujuan Kongres jika operasi militer berlangsung lebih dari 60 hari. Rubio kembali menyuarakan pandangan Presiden Donald Trump yang menilai aturan tersebut “100 persen tidak konstitusional.”
Pemerintahan Trump sebelumnya juga telah memberi tahu Kongres bahwa perang dengan Iran telah “dihentikan” menjelang tenggat hukum tersebut.
Meski demikian, Trump belum menutup kemungkinan dimulainya kembali aksi militer di tengah mandeknya proses perundingan. Rubio menyebut Iran kini memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka tidak berniat mengembangkan senjata nuklir.
Ia juga menuduh Teheran tengah mengembangkan rudal jarak jauh dan memperluas fasilitas bawah tanah untuk pengayaan uranium.
“Seseorang harus melakukan sesuatu terkait hal ini,” kata Rubio.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump menolak menjelaskan secara rinci tindakan apa yang akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang masih rapuh dengan Iran. Namun, ia kembali menegaskan bahwa Teheran menginginkan kesepakatan damai dengan Washington.
Konflik meningkat sejak 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Teheran dan sejumlah kota lain di Iran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, sejumlah komandan senior, serta warga sipil.
Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone yang menargetkan kepentingan AS dan Israel di kawasan Timur Tengah, sekaligus memperketat pengawasan di Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April dan dilanjutkan dengan perundingan antara delegasi Iran dan AS di Islamabad, meski pembicaraan itu belum menghasilkan kesepakatan.


