HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketegangan antara Vatikan dan Gedung Putih berlanjut dengan sindiran keras dari Paus Leo XIV. Dalam pidato emosional di Afrika, Paus Leo melontarkan kritik keras terhadap para pemimpin dunia yang dinilai menjadikan agama sebagai alat pembenaran perang.
Tanpa menyebut nama secara langsung, pernyataan Paus Leo dinilai sebagai sindiran terbuka terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, khususnya terkait konflik AS-Israel dengan Iran.
Berbicara di Katedral Santo Yosef, Bamenda, Kamerun, Paus Leo menyampaikan kecaman tajam terhadap praktik kekuasaan global yang memanfaatkan agama.
“Celakalah mereka yang memanipulasi agama dan nama Tuhan itu sendiri untuk keuntungan militer, ekonomi, dan politik mereka sendiri, menyeret apa yang suci ke dalam kegelapan dan kekotoran,” kata Leo dikutip Holopis.com pada Jumat, (17/4/2026).
Ia juga menyoroti ironi global dengan miliaran dolar dihabiskan untuk perang. Sementara kebutuhan dasar manusia diabaikan.
“Mereka menutup mata terhadap fakta bahwa miliaran dolar dihabiskan untuk pembunuhan dan kehancuran. Namun, sumber daya yang dibutuhkan untuk penyembuhan, pendidikan, dan pemulihan sama sekali tidak ditemukan,” tutur Paus Leo.
Omongan paling tajam datang saat Paus Leo menggambarkan kondisi dunia saat ini.
“Dunia sedang dihancurkan oleh segelintir tiran. Namun ,dunia dipersatukan oleh banyak saudara dan saudari yang mendukung,” kata Paus Leo.
Pernyataan Paus langsung memicu respons dari lingkaran kekuasaan di Washington. Wakil Presiden AS JD Vance, seorang Katolik secara terbuka mengkritik Paus Leo.
Ia bahkan menyarankan agar Paus Leo tidak mencampuri urusan geopolitik. Vance mempertanyakan pandangan Paus tentang perang yang bisa dibenarkan secara moral. Hal itu dengan merujuk pada tradisi panjang teori perang adil.
“Ketika Paus mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah berada di pihak orang-orang yang menggunakan pedang, ada lebih dari 1.000 tahun tradisi teori perang yang adil,” tutur Vance.
Namun kritik itu langsung dibantah oleh Konferensi Uskup Katolik AS. Melalui pernyataan resmi yang diwakili James Massa, mereka menegaskan bahwa Paus justru merujuk pada ajaran klasik Gereja.
“Selama lebih dari seribu tahun, Gereja Katolik telah mengajarkan teori perang yang adil,” kata Massa.


