HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa kesepakatan perdamaian antara Washington dan Teheran dijadwalkan akan ditandatangani pada Minggu (14/6). Trump bahkan menyebut Selat Hormuz akan kembali dibuka untuk seluruh pihak setelah kesepakatan tersebut diteken.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di platform Truth Social pada Sabtu (13/6) Menurutnya, penandatanganan kesepakatan akan menjadi langkah penting dalam memperbaiki hubungan kedua negara yang selama ini diwarnai ketegangan.
“Kesepakatan tersebut dijadwalkan akan ditandatangani besok, dan segera setelah ditandatangani, Selat Hormuz AKAN DIBUKA UNTUK SEMUA PIHAK,” tulis Trump, dikutip Holopis.com, Minggu (14/6).
Trump juga mengklaim bahwa Iran kini tidak lagi berkeinginan mengembangkan senjata nuklir. Ia mengisyaratkan bahwa AS dan Iran nantinya akan bekerja sama untuk menangani uranium yang telah diperkaya oleh Teheran pada waktu yang dianggap tepat.
Menurut Trump, kesepakatan tersebut berpotensi menciptakan hubungan yang lebih baik antara kedua negara. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa masih ada opsi lain yang lebih buruk apabila proses negosiasi tidak berjalan sesuai harapan.
Iran Sebut Belum Ada Kesepakatan Final
Di tengah optimisme yang disampaikan Trump, pernyataan berbeda justru datang dari pihak Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah adanya kesepakatan final yang akan ditandatangani pada Minggu.
Baghaei menegaskan bahwa jika nantinya terdapat nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), dokumen tersebut hanya akan menjadi kerangka dasar untuk melanjutkan pembicaraan antara kedua negara.
Ia juga menekankan bahwa dokumen tersebut tidak dapat dianggap sebagai perjanjian damai final yang mengakhiri seluruh persoalan antara Washington dan Teheran.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar sebelumnya menyatakan bahwa upacara penandatanganan perjanjian secara elektronik antara AS dan Iran dijadwalkan berlangsung pada Minggu. Pernyataan itu disampaikan setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengungkapkan bahwa kedua negara telah menyetujui kerangka awal perjanjian damai.
Pakistan diketahui berperan sebagai mediator dalam proses negosiasi yang berlangsung antara AS dan Iran.
Menurut sejumlah laporan media pemerintah Iran, pembicaraan terkait program nuklir Iran diperkirakan masih akan berlanjut selama sekitar 60 hari ke depan. Hal itu menunjukkan bahwa meski terdapat kemajuan dalam proses diplomasi, sejumlah isu penting masih harus dibahas sebelum tercapai kesepakatan akhir.


