HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menemui jalan buntu. Meski digelar intensif selama lebih dari 20 jam di Islamabad, kedua negara gagal mencapai kesepakatan—dan satu isu menjadi pusat kebuntuan: Selat Hormuz.
Negosiasi ini merupakan bagian dari upaya meredakan konflik besar 2026, sekaligus menjaga jalur energi global tetap terbuka. Namun, perbedaan kepentingan strategis membuat kesepakatan semakin sulit tercapai.
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati titik sempit ini. Kondisi itu menjadikannya salah satu jalur paling vital di dunia.
Dari laporan medua internasional, sejak konflik memuncak, Iran mengambil langkah drastis dengan membatasi bahkan menutup akses jalur tersebut. Dampaknya langsung terasa, dengan arus kapal turun drastis hingga di bawah 10% dari kondisi normal, memicu krisis energi global.
Bagi AS, pembukaan penuh Selat Hormuz adalah syarat mutlak. Namun bagi Iran, jalur ini justru menjadi alat tawar strategis.
Adapun dalam perundingan, Iran mengajukan sejumlah tuntutan keras yakni hak mengontrol lalu lintas kapal, kemungkinan pemberlakuan biaya (toll) bagi kapal asing, serta jaminan keamanan dan kompensasi pascakonflik.
Sebaliknya, AS bersikeras bahwa Selat Hormuz harus tetap menjadi jalur bebas tanpa syarat, demi menjaga stabilitas ekonomi global.
Perbedaan ini menjadi titik krusial yang sulit dipertemukan. Setelah diskusi maraton, perundingan akhirnya berakhir tanpa kesepakatan.
Pihak AS menilai Iran yang menolak tawaran kompromi. Sebaliknya, dari Iran menyebut tuntutan Washington sebagai tidak masuk akal.
Deadlock ini juga mengancam gencatan senjata sementara yang sebelumnya disepakati, membuka risiko eskalasi konflik baru.
Dalam eskalasi konflik, Iran memasang ranjau laut yang sulit dilacak. Kini, AS mulai menggertak dengan melancarkan operasi pembersihan jalur pelayaran.

